Arti Fathonah, Sifat Wajib Rasul yang Istimewa

Kristina - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 17:03 WIB
ilustrasi nabi muhammad
Foto: iStock
Jakarta -

Salah satu sifat wajib yang dimiliki oleh rasul adalah fathonah. Sifat ini merupakan suatu keistimewaan yang patut untuk diteladani. Lantas, apa artinya fathonah?

Allah SWT memberikan kemampuan kepada para rasul dalam menyampaikan ajaran dan menyelesaikan perkara di antara kaumnya. Termasuk ketika berargumentasi menghadapi kaum yang menentang ajarannya.

Sebagaimana dalam firman-Nya pada QS. Al Baqarah ayat 269 sebagai berikut:

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Artinya: "Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS. Al Baqarah: 269).

Dikutip dari buku Akidah Islam oleh Syeikh Ibrahim Al-Bajuri, wajib bagi rasul bersifat fathonah (فَطَانَةٌ). Fathonah artinya cerdas. Dalilnya adalah, jika para rasul tidak memiliki sifat cerdas, bagaimana mungkin mereka mampu membangun argumentasi terhadap orang-orang yang menentangnya. Maka, mustahil bagi rasul bersifat bodoh.

Rasul memiliki kecerdasan yang tinggi dalam memberikan jalan tengah di antara kaumnya yang berselisih. Salah satu contohnya ketika terjadi perselisihan di antara kabilah Mekkah dalam peletakan Hajar Aswad di atas Ka'bah.

Masing-masing kelompok dari mereka merasa berhak meletakkan batu suci tersebut. Hingga datanglah Rasulullah memberikan jalan tengah di antara mereka. Beliau kemudian meletakkan batu itu di atas sorbannya. Lalu, ia meminta masing-masing perwakilan para kabilah untuk memegang ujung sorbannya. Akhirnya batu tersebut berhasil diletakkan di atas Ka'bah oleh masing-masing kabilah secara adil.

Dalam Al Quran telah dikisahkan keadaan para nabi dan rasul dalam menghadapi orang-orang yang selalu membangkang darinya. Disebutkan pula dalam beberapa ayat yang menjadi hujjah dari Allah SWT seperti dalam QS. Al An'am ayat 83 sebagai berikut:

وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَٰهَآ إِبْرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَٰتٍ مَّن نَّشَآءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Artinya: "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al An'am: 83)

Sifat fathonah yang dimiliki rasul ini patut dicontoh oleh umat Islam khususnya para peserta didik. Eni Setyowati dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh) dan Implementasinya di Sekolah mengatakan bahwa sifat fathonah berpengaruh terhadap perilaku peserta didik. Menurutnya, orang yang cerdas adalah orang yang berilmu.

Ada dua pengaruh dari sifat ini. Pertama, apabila peserta didik adalah orang yang cerdas dan berilmu, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk menentukan jalan hidup. Kedua, kecerdasan ilmu akan membawa hidup menjadi lebih terang.

Fathonah juga berpengaruh terhadap kehidupan akhirat. Orang yang memiliki kecerdasan berfikir, maka ia memiliki kecerdasan pula dalam menangkap tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dan mengimani-Nya.

(nwy/nwy)