Ragam Kisah Pegawai KPK 'Korban' Sengkarut TWK

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 08:59 WIB
Gedung baru KPK
Gedung KPK (Andhika Prasetya/detikcom)
Jakarta -

Beberapa pegawai KPK mengaku kecewa karena tak lagi bertugas di KPK lantaran dinyatakan tidak memenuhi syarat imbas dari tak lulusnya tes wawasan kebangsaan (TWK). Mereka mengaku sedih, bahkan menganggap berutang kepada negara, karena tidak bisa menuntaskan kasus yang sedang ditangani.

Salah satunya Faisal, salah satu pegawai KPK yang tidak lulus TWK. Dia kecewa karena sudah 15 tahun mengabdi untuk KPK.

Faisal mengungkapkan masuk KPK pada November 2005 melalui program rekrutmen bertajuk Indonesia Memanggil (IM). Kala itu, dia masuk melalui program calon tenaga fungsional (CTF) yang ditujukan untuk fresh-graduate atau yang baru bekerja.

"Program CTF merupakan rancangan terencana KPK untuk melatih calon pegawainya yang benar-benar hasil kaderisasi KPK sendiri, sehingga diharapkan nilai-nilai KPK, seperti integritas, profesionalitas, dan kepemimpinan, bisa terinternalisasi ke para calon pegawai tersebut. Di program CTF ini, terdapat 38 calon pegawai KPK," ungkap Faisal dalam keterangan tertulis, Senin (31/5/2021).

Faisal mengatakan program CTF memakan waktu 9 bulan. Selama 6 bulan pertama, dia harus menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang untuk mempelajari kesamaptaan, kebangsaan, bela negara, serta konsep dan peraturan antikorupsi. Kemudian, selama 3 bulan, dia harus melaksanakan on the job training (OJT) ke seluruh unit kerja di KPK, sembari kursus bahasa Inggris di Sekolah Bahasa Kepolisian Negara Republik Indonesia (Sebasa Polri) di Jakarta.

"Setelah semua etape pendidikan program CTF dilalui, di akhir tahapan kami dievaluasi untuk menentukan lulus atau tidak lulusnya kami menjadi pegawai KPK. Setelah dinyatakan lulus, kami ditempatkan di beragam unit kerja KPK, mulai Kedeputian Pencegahan, Penindakan, Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat, dan Informasi dan Data," tuturnya.

Lebih dari 15 tahun sudah Faisal mengabdi di KPK. Kini langkahnya memberantas korupsi harus terhenti setelah dia dinonaktifkan setelah tak lolos TWK.

"Hingga kini telah lebih 15 tahun saya bersama KPK, baik duka maupun suka. Kebersamaan ini terberai ketika pada tanggal 7 Mei 2021 sebuah Surat Keputusan (SK) Pimpinan KPK Nomor 652 Tahun 2021 tentang Hasil Asesmen Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai yang Tidak Memenuhi Syarat Dalam Rangka Pengalihan Pegawai KPK Menjadi Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) sampai ke tangan saya. Di dalamnya, secara tak langsung, saya dinonaktifkan secara sepihak," ungkap Faisal.

Bukan hanya Faisal, kekecewaan juga datang dari Kepala Satgas Penyidikan kasus Bansos Corona, yaitu Andre Dedy Nainggolan. Nasib pengembangan perkara itu belum jelas, namun penyidiknya menjadi salah satu yang tidak lulus TWK KPK.

Andre kini gundah gulana. Bahkan, di tengah sengkarut TWK, dirinya masih memikirkan kelanjutan pengembangan kasus itu. Kegundahan Andre itu diungkapkan oleh Tri Artining Putri, rekan senasib Andre, yang juga tak lolos TWK KPK.

Tri menuliskan kegundahan Andre itu di akun Twitter-nya, @arti_put, yang diunggah pada Senin (31/5/2021) sehari sebelum pelantikan pegawai KPK menjadi ASN.

"Mari kita bercerita sebentar, H-1 pelantikan pegawai KPK, kecuali gue tentunya, menjadi ASN. Malam ini gue berkesempatan makan malam bareng Bang Nenggo--sapaan akrab Kasatgas Penyidik Bansos, Andre Dedy Nainggolan. Untuk diketahui, Bang Neggo hingga saat ini masih nonaktif akibat dinyatakan tidak lolos TWK," tulis Tri.

Simak video 'Dewas Proses Dugaan Pimpinan KPK Langgar Kode Etik Terkait TWK':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikut