Satpol PP Tutup Permanen Hotel di Jakbar Terkait Kasus Prostitusi Anak

Yogi Ernes - detikNews
Senin, 31 Mei 2021 16:20 WIB
Satpol PP DKI Jakarta menutup hotel di Jakarta Barat terkait prostitusi anak
Satpol PP DKI Jakarta menutup hotel di Jakarta Barat terkait prostitusi anak. (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Satpol PP KI Jakarta menindaklanjuti temuan prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur di hotel Wisma Prima di Jakarta Barat. Wisma Prima kini ditutup permanen.

"Iya sudah ditutup permanen pagi ini," kata Kabid PPNS Satpol PP DKI Jakarta Eko Saptono saat dihubungi detikcom, Senin (31/5/2021).

Menurut Eko, penutupan itu telah melalui prosedur usai adanya temuan praktik prostitusi di lokasi tersebut. Dia mengatakan penutupan itu berdasarkan Perda 8 Tahun 2008 tentang Ketertiban Umum serta Pasal 55 ayat 4 Pergub 18 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Pariwisata.

Selain itu, dia menyebut izin usaha tersebut pun telah dicabut. Eko mengatakan per 24 Mei izin usaha Wisma Prima juga dicabut.

"Udah sesuai dengan prosedur ada rekomendasi dari (dinas) pariwisata agar izin dicabut oleh PTSP (pelayanan terpadu satu pintu," ungkap Eko.

Kasus prostitusi online itu terbongkar usai petugas melakukan penggerebekan pada Rabu (19/5) dan Jumat (21/5) di dua hotel tersebut. Mirisnya, ada 18 anak di bawah umur ditemukan petugas dari penggerebekan di dua lokasi tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, dua mucikari inisial AD (27) dan AP (34) awalnya mencari korban lewat dunia maya. Korban lalu diiming-imingi dijadikan pacar oleh pelaku.

"Pelaku menjadikan pacar dan mengajak anak korban untuk menginap di hotel beberapa hari," kata Yusri saat dihubungi, Senin (24/5/2021).

Selama di hotel tersebut, pelaku dan korban anak di bawah umur tinggal beberapa hari. Korban pun juga diminta melayani nafsu dari pelaku mucikari tersebut.

Usai korban terperdaya, pelaku kemudian segera membuat akun aplikasi Michat. Lewat aplikasi itu, pelaku menawarkan korban ke pria hidung belang.

Dalam satu transaksi, korban ditawarkan dengan harga Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Pelaku pun turut mendapatkan bagian dalam tiap transaksi tersebut.

Atas perbuatannya tersebut, dua pelaku dijerat Pasal berlapis. Keduanya dijerat mulai Pasal 88 juncto 76 UU RI Nomor 17 Tahun 2015 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.

(ygs/mea)