Megawati Minta Kader Out Jika Enggan Jadi Petugas Partai, Sasar Ganjar?

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Senin, 31 Mei 2021 07:51 WIB
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno
Foto: Pengamat politik, Adi Prayitno (Samsudhuha Wildansyah/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri meminta kepada para kadernya untuk keluar apabila tak mau mematuhi perintah partai. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai pernyataan Megawati itu sebagai peringatan kepada seluruh kader.

"Itu imbauan secara umum kepada kader-kader PDIP siapapun dia, gubernur, bupati, wali kota bahkan presiden itu tidak boleh merasa lebih besar dari partai. Karena mereka bisa seperti itu, bisa menjabat anggota dewan, presiden, gubernur wali kota, bupati ya karena partai, karena PDIP, itu sebenarnya. Imbauan yang cukup bagus untuk menertibkan kader-kader PDIP yang dinilai genit dan merasa lebih besar dari partai," ujar Adi kepada wartawan, Minggu (30/5/2021).

Sindir Ganjar Pranowo?

Adi mengatakan PDIP memiliki sistem komando penuh kepada ketua umumnya. Sehingga, Megawati bisa menentukan masa depan kadernya bisa bertahan di PDIP atau tidak.

"Ini yang saya bilang, memang dibandingkan dengan partai-partai lain PDIP memang agak sedikit berbeda, bahkan PDIP ini tidak segan memecat dan memberhentikan kader yang dinilai membelok, tidak bisa diatur, indisipliner sekalipun kadernya itu memiliki elektabilitas, popularitas dan tokoh penting di negara ini," ucapnya.

"Makanya kalau dibaca konteksnya ini peringatan kepada Ganjar dan calon-calon Ganjar yang yang lain, bahwa apapun Anda, tidak boleh merasa tidak boleh melebihi partai," sambungnya.

Lebih lanjut, Adi mengatakan Megawati juga pernah mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai petugas partai di periode pertama pemerintahan. Hal itu menunjukkan bahwa kuasa partai lebih tinggi.

"Bahkan dulu Presiden Jokowi di periode pertama, Megawati secara terang benderang mengatakan Jokowi adalah petuga partai, itu menegaskan bahwa partai itu di atas segala-galanya, dia di atas presiden, presiden yang dari partai maksudnya, dia di atas gubernur, bupati, wali kota dan anggota dewan dan sebagai partai kapan saja bisa mencopot dan memberhentikan kader tersebut," katanya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan video 'Megawati: Kalau Nggak Mau Jadi Petugas Partai, Out!':

[Gambas:Video 20detik]