Kasus Investasi Bodong, Ketua Koperasi 212 Mart Samarinda Diperiksa Polisi

Budi Kurniawan - detikNews
Selasa, 25 Mei 2021 16:37 WIB
Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Andika Dharma Sena (M Budi K/detikcom)
Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Andika Dharma Sena (M Budi K/detikcom)
Samarinda -

Polisi terus mengusut kasus dugaan penggelapan dana koperasi syariah 212 Mart Samarinda. Hari ini Satreskrim Polresta Samarinda memeriksa Ketua Koperasi 212 Mart Samarinda sebagai saksi.

"Hari ini kita panggil Ketua Koperasi Syariah 212 Samarinda berinisial PN sebagai saksi," ucap Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Andika Dharma Sena saat dihubungi, Selasa (25/5/2021).

PN diperiksa terkait keterlibatan raibnya dana sekitar Rp 2 miliar yang berasal dari 600 investor.

Sejak dilaporkan pada akhir April lalu, pihak kepolisian setidaknya telah memeriksa 6 korban dari 13 korban yang melapor. Polisi juga telah memeriksa saksi dari dinas terkait.

"Ada 10 saksi yang telah kita ambil keterangan termasuk dari dinas terkait untuk dimintai keterangan terkait dugaan investasi bodong ini," ungkapnya.

Kompol Andika menyebut setidaknya ada 4 orang terlapor, termasuk Ketua Koperasi Syariah 212 Mart Samarinda PN yang hari ini dipanggil. Jika terbukti, pihak terlibat kasus investasi bodong akan dinaikkan statusnya menjadi tersangka.

"Setelah pemeriksaan PN, kami akan lakukan proses gelar perkara, jika terbukti masuk ranah pidana terlapor akan kita naikkan status sebagai tersangka," tutup Andika.

Sebelumnya diberitakan, dalam kasus ini ada tiga pihak yang dilaporkan ke polisi, yakni PN, RJ, dan HB. Mereka dilaporkan 28 orang yang memberi kuasa kepada Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Lentera Borneo.

Diperkirakan, ke-28 orang itu mengalami kerugian lebih dari Rp 300 juta. Dari total kerugian Rp 2 miliar, diduga ada 3 rekening yang dipakai untuk menghimpun dana dari para investor.

Kasus ini bermula dari ajakan investasi untuk mendirikan sebuah usaha Toko 212 Mart di Samarinda pada 2018 melalui sebuah tautan WhatsApp. Pembentukan toko dilakukan dengan metode pengumpulan dana investasi masyarakat secara terbuka dengan melakukan transfer minimal Rp 500 ribu hingga maksimal Rp 20 juta.

Setelah mendapatkan dana investasi sebanyak Rp 2 miliar lebih, terbentuklah secara bertahap 3 unit toko 212 Mart yang berdiri di kawasan Jalan AW Sjahranie, Jalan Bengkuring, serta di Jalan Gerilya. Dua tahun berjalan, para penyumbang dana mulai curiga dengan operasional 212 Mart.

Pada awal 2020, para investor mulai curiga karena beberapa gerai itu tutup. Kemudian ada tagihan dari supplier, tagihan ruko, dan gaji pegawai yang tak terbayarkan. Lalu laporan keuangan terkesan dibuat asal-asalan. Kondisi ini membuat para korban mulai menempuh jalur hukum.

Simak juga 'Investasi Bodong EDC-Cash Tipu 57 Ribu Member, Raup Ratusan Miliar!':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)