Dinkes Periksa RS Disalahkan Keluarga soal Ibu-Bayi Meninggal Usai Persalinan

Perdana Ramadhan - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 13:08 WIB
RS Bunda Mulia, Asahan (Perdana-detikcom)
RS Bunda Mulia, Asahan (Perdana/detikcom)
Asahan -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Asahan memeriksa pihak Rumah Sakit (RS) Bunda Mulia, Kisaran, yang disalahkan keluarga setelah ibu dan bayi meninggal seusai persalinan. Apa hasilnya?

"Kami sudah sidak dan periksa rumah sakit kemarin. Kalau penanganan yang dilakukan rumah sakit sudah sesuai standar. Masalahnya, sikap masyarakatnya," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Asahan, Darma Halim, saat dimintai konfirmasi, Jumat (21/5/2021).

Dia mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, Dinas Kesehatan tidak menemukan dugaan pelanggaran oleh pihak RS Bunda Mulia. Menurutnya, prosedur pelayanan telah dilakukan sesuai standar RS tersebut.

"Ini hasil sementara ini, kalau SOP semua sudah sesuai. Kami saat ini sudah tugaskan tim audit maternal perinatal. Merekalah nanti ahli-ahli yang mempelajari masalah persalinan dan mengevaluasi kembali. Jadi kemarin itu termasuk penghimpunan informasi awal memang semuanya sudah sesuai," kata Darma Halim.

Dia juga menyoroti keterangan pihak rumah sakit soal pasien yang meninggal diminta keluarga untuk merangkak sejauh 5 meter selama 2 jam. Jika memang benar, katanya, hal itu merupakan tindakan yang tak benar secara medis.

"Di situ kan ada petugas, ada perawatnya. Dokter dan perawat lebih tahu kondisi (pasien). Itulah sikap keluarganya, sebetulnya dalam pelaksanaannya nggak boleh ada itu biar cepat lahir, bergerak itu bukan secara medis," kata dia.

Pihak keluarga belum memberi tanggapan terkait keterangan pihak RS.

Sebelumnya, persoalan ibu dan bayi yang meninggal seusai persalinan di RS Bunda Mulia Kisaran, Sumut, viral di media sosial. Keluarga menuding pihak rumah sakit lalai hingga menyebabkan meninggalnya ibu-bayi seusai persalinan.

Tudingan itu ramai dan beredar di sosial media disampaikan Yulia Sinagaa lewat akun Facebook-nya. Ada beberapa foto dan narasi terkait pelayanan rumah sakit yang disebutnya tidak maksimal hingga dia harus kehilangan kakak ipar dan keponakannya yang baru lahir.

"Karena kelalaian dan sepele petugas medis, nyawa pun hilang," tulis Yulia.

Mertua pasien yang meninggal, Rindu br Aritonang (55), juga menceritakan hal yang sama saat ditemui di rumahnya. Dia mengaku menyaksikan pelayanan RS yang bertele-tele sehingga menantunya meninggal setelah melahirkan.

"Jadi mulanya itu hari Sabtu, tanggal 15 Mei, menantuku mau melahirkan. Pertama dibawa pertama ke puskesmas, lalu dianjurkan ke rumah sakit. Kami sampai di rumah sakit itu sekitar jam 9 malam," kata Rindu.

Dia mengatakan menantunya tak langsung ditangani karena belum ada dokter. Dia menyebut hanya ada beberapa perawat yang memeriksa. Padahal, katanya, menantunya sudah merasakan sakit.

"Malam itu di rumah sakit, perawat di sana bilang masih bisa melahirkan normal ini, jadi kami tunggu juga sambil menunggu dokter datang," kata dia.

Bayi tersebut meninggal tak lama setelah persalinan. Ibunya meninggal keesokan harinya.

Pihak RS Tepis Tuduhan Keluarga

Penanggung jawab RS Bunda Mulia Kisaran, Binsar P Sitanggang, menjelaskan pihaknya telah melakukan pelayanan sesuai standar. Dia menyebut pasien datang dalam kondisi normal dan tidak ada indikasi operasi.

"Pasien datang dalam kondisi fisiologis normal, tidak ada indikasi operasi," ucapnya.

Dia juga menuding keluarga menyuruh pasien merangkak sejauh 5 meter selama 2 jam. Hal itu, katanya, menyebabkan gangguan pada rahim.

"Ada intervensi keluarga untuk menyuruh pasien jongkok dan merangkak merangkak sejauh 5 meter itu selama 2 jam. Sehingga lepas plasenta di dalam rahim hingga dilakukan operasi," kata Binsar.

(haf/haf)