Ahmad Basarah Ingin RI Punya Vaksin dan Alat Deteksi COVID-19 Sendiri

Khoirul Anam - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 10:34 WIB
Ahmad Basarah
Foto: MPR
Jakarta -

Momentum Hari Kebangkitan Nasional, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Basarah berharap Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) ke depan dapat melahirkan vaksin sekaligus alat deteksi COVID-19 karya anak bangsa sendiri. Menurutnya jika pandemi COVID-19 berhasil diatasi secara mandiri, Indonesia bisa segera maju membangun perekonomian nasional menuju 'Satu Abad Indonesia' pada 2045.

"Satu Abad Indonesia pada 2045 tinggal 24 tahun lagi dari sekarang. Jika vaksin COVID-19 dalam waktu tak lama berhasil kita produksi sendiri sesuai kerja keras BRIN, konsolidasi nasional harus segera kita lakukan. Pengembangan sosial dan budaya harus juga kita konsolidasikan seperti yang dulu dilakukan Boedi Oetomo saat berdiri 20 Mei 1908. Organisasi ini dulu juga fokus pada ekonomi, sosial, dan kebudayaan," jelas Ahmad dalam keterangannya, Kamis (20/5/2021).

Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu mengingatkan semua pihak agar tema Harkitnas tahun ini, yakni 'Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh!', menjadi pendorong semua periset nasional dari hulu sampai hilir dan bekerja keras melahirkan inovasi nasional. Dia menegaskan kemandirian bangsa seperti yang dicita-citakan Presiden Sukarno akan terlaksana ketika ketergantungan Indonesia pada produk impor berkurang.

"Saya tentu saja berharap BRIN juga melakukan riset-riset lain yang berujung pada produksi massal produk nasional di segala bidang agar rakyat merasakan dampak ekonomi langsung dari proses riset mereka. Sektor pengembangan iptek di tanah air ini bahkan saya harapkan menjadi sektor favorit dan seksi, yang menjadi tujuan investasi," jelas Ahmad.

Ahmad menilai keberhasilan Boedi Oetomo karena organisasi ini mengembangkan politik etis di tanah Jawa yang berbeda dengan apa yang dikembangkan organisasi pribumi lainnya saat itu. Organisasi ini tampil moderat dan progresif, sementara organisasi pribumi lainnya saat itu dinilai cenderung memilih jalur radikal.

"Untuk itu dalam aspek sosial budaya, tema yang harus kita konsolidasikan adalah sosialisasi moderasi beragama. Sikap moderat dan inklusif itu penting di tengah kebhinekaan kita sebagai bangsa. Kita harus sampaikan terus-menerus kepada masyarakat bahwa radikalisme dan ekstrimisme dalam beragama itu berbahaya dan dapat memecah belah persatuan bangsa," lanjutnya.

(prf/ega)