Blak-blakan Hajriyanto Y. Thohari

Membela Palestina Amanat Konstitusi, Pancasila, dan Bung Karno

Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 10:07 WIB
Jakarta -

Duta Besar RI untuk Lebanon Hajriyanto Y Tohari mengungkapkan konflik Palestina dengan Israel sama sekali bukan terkait agama. Sebab, baik Islam maupun Kristen di sana sama-sama menjadi korban, dan mereka juga sama-sama berjuang mempertahankan diri dari aneksasi Israel.

"Jadi, kalau ada yang menolak membela Palestina karena alasan agama, begitu juga membela karena alasan agama, itu sama-sama salah fatal," kata Hajriyanto dalam program Blak-blakan di detikcom, Jumat (21/5/2021).

Ketika para petinggi negara-negara Arab menandatangani Kesepakatan Ibrahim (berdamai dengan Israel) di Gedung Putih pada 2020, dia mencontohkan, banyak tokoh Kristen, pastur, dan pendeta yang marah. Sebab, hal itu dianggap mengkhianati bangsa Palestina.

"Orang harus tahu bahwa tokoh yang paling keras perjuangannya di Palestina, George Habash (meninggal dunia 2008) itu Kristen. Nayef Hawatmeh itu Kristen. Bahkan menteri luar negeri yang kemudian menjadi juru bicara, sekarang anggota eksekutif Hanan Ashrawi, itu Kristen," beber Hajriyanto.

Kalaupun di Palestina maupun di negara-negara Arab terjadi perseteruan dua pihak dengan latar agama yang berbeda, menurut Hajriyanto, yang baru saja merilis buku 'Anthropology of the Arabs: Coretan-coretan Etnografis dari Beirut', bisa dipastikan latar dan motifnya bukan agama. Sebab, persoalan agama di bumi Arab sudah dianggap selesai, bukan hal yang patut diperdebatkan lagi. Mereka sudah paham betul karena semua agama lahir di bumi Arab.

"Cuma di kita yang masih saja ada kelompok-kelompok yang suka membawa-bawa isu agama dalam setiap persoalan. Apa yang terjadi di Palestina itu lebih pada tragedi kemanusiaan," kata Hajriyanto.

Mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah dan politikus Partai Golkar itu juga menyentil pihak-pihak yang menyerukan agar bangsa Indonesia memprioritaskan urusan dalam negeri sendiri. Sikap semacam itu, kata Hajriyanto Y Thohari, jelas mengingkari amanat pembukaan UUD kita, "Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Selain itu, mengesampingkan keberpihakan bagi upaya kemerdekaan Palestina juga tak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ke-2 dan ke-3. Ketika dalam perdebatan di BPUPKI Bung Karno mengatakan "Persatuan Indonesia" atau Nasionalisme, dia segera mengintrodusir internasionalisme, kemanusiaan.

"Karena Bung Karno juga takut kalau nasionalisme itu nanti terjebak dalam chauvinisme hanya memuji dirinya sendiri dan melupakan kemanusiaan universal," ujarnya.

Bung Karno, dia melanjutkan, sangat menekankan internasionalisme dan dirumuskan kembali menjadi perikemanusiaan, akhirnya kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai penyeimbang persatuan Indonesia.

"Jangan hanya gara-gara Persatuan Indonesia, kemudian mengabaikan kemanusiaan. Dan juga jangan sampai karena kemanusiaan yang universal akhirnya terjebak pada humanisme yang kemudian menganggap remeh persatuan nasional atau nasionalisme. Itu juga salah," tegas Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014 itu.

(jat/jat)