Kasus Pemuda NTB Hina Palestina Disetop, Ini Alasannya

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Kamis, 20 Mei 2021 21:04 WIB
Pemuda di Lombok diamankan polisi karena menghujat Palestina dengan kata kotor (Foto: dok. Istimewa)
Pemuda di Lombok diamankan polisi karena menghujat Palestina dengan kata kotor. (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Kasus pemuda asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Hilmiadi alias Ucok (23), yang menghina Palestina melalui media sosial TikTok, dihentikan pihak kepolisian. Kasus ini ditangani secara keadilan restoratif (restorative justice) atau penyelesaian di luar pengadilan.

"Penyidik menindaklanjuti dengan penyelesaian secara restorative justice. Yang bersangkutan sudah meminta maaf karena perbuatannya menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Hadir para tokoh agama, ketua MUI, dan orang tua yang bersangkutan," ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan melalui pesan singkat, Kamis (20/5/2021).

Ramadhan menjelaskan penyidik telah menyimpulkan bahwa tindakan Ucok tidak memenuhi unsur pidana UU ITE Pasal 28 Ayat 2. Pasalnya, penghinaan itu dilakukan kepada negara lain.

"Hasil gelar (perkara) tadi siang penyidik menyimpulkan yang bersangkutan tidak bisa dikenakan UU ITE Pasal 28 ayat 2. Karena penghinaan tersebut ditujukan kepada negara lain. Jadi tidak memenuhi unsur pidana," paparnya.

Namun, Ramadhan mengungkapkan alasan Ucok ditangkap setelah video penghinaan terhadap Palestina viral di media sosial (medsos). Dia mengatakan Ucok saat itu harus segera diamankan karena untuk menghindari amuk masyarakat atas konten menghina Palestina yang dibuat Ucok.

"Polri harus segera sigap mengambil tindakan cepat. Karena kasus di NTB amarah masyarakat ingin membakar rumah. Sehingga tindakan Polri harus segera mengamankan yang bersangkutan dari amuk warga," tutup Ramadhan.

Diketahui, penahanan Ucok juga telah ditangguhkan sejak Rabu (19/5) kemarin. "HM alias UC dilakukan penahanan dan ditangguhkan pada hari Rabu tanggal 19 Mei 2021," ujar Ramadhan.

Ramadhan menyebut penyidik juga telah kembali melaksanakan gelar perkara agar kasus Ucok itu bisa diselesaikan secara restorative justice karena Ucok telah meminta maaf atas perbuatannya.

"Hari ini Kamis tanggal 20 Mei 2021 penyidik kembali melaksanakan gelar perkara untuk mencoba menggelar restorative justice yang dilakukan penyidik Ditkrimsus Polda NTB dengan pertimbangan adanya permintaan maaf pelaku dan ketidakpahaman pelaku terhadap permasalahan yang terjadi," jelasnya.

Diketahui, cok ditangkap Polsek Gerung pada Sabtu (15/5). Pria yang bekerja sebagai petugas kebersihan di kampus swasta di Mataram, NTB, itu sempat ditahan di Polda NTB dan terancam dipenjara 6 tahun.

Simak juga 'Kata Wakil Ketua Komisi X soal Siswi yang DO Karena Hina Palestina':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)