Di Bali, Bamsoet Bicara Pesan Gus Dur soal Agama & Suku

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Kamis, 20 Mei 2021 15:29 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) kembali mengingatkan kemerdekaan Indonesia dapat terwujud karena adanya semangat nasionalisme dan bersatu melawan penjajah. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa harus memastikan cita-cita proklamasi kemerdekaan untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.

"Bukan justru malah menghancurkan ikatan kebangsaan melalui polusi ujaran kebencian berlandaskan SARA. Khususnya dengan menyalahgunakan ajaran agama untuk merendahkan ataupun memusuhi saudara sebangsa. Maupun mendeskriditkan salah satu suku tertentu. Ingat, mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan. Dan puncak ajaran agama adalah cinta," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (20/5/2021).

Ini diungkapkan pada acara 'Silaturahmi Kebangsaan Demi Merawat Kebhinekaan dan Keutuhan NKRI' yang diselenggarakan Polda Bali, Kamis (20/5).

Ketua DPR RI ke-20 ini menegaskan, sebagaimana diungkapkan Bung Karno dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, bahwa Negara Republik Indonesia bukan milik satu golongan, agama, suku, maupun golongan adat-istiadat, namun milik kita semua.

"Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga menegaskan, tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu," tegas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menerangkan, daripada sibuk mempolitisasi SARA, lebih baik energi bangsa dihabiskan untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan makmur. Mengingat menurut Bank Dunia, PDB Indonesia tahun 2018 menembus 1,04 triliun US dollar, menempatkan Indonesia pada ranking 16 dunia. Bahkan jika diukur dari paritas daya beli, Indonesia menduduki rangking 7 dunia.

"Namun ketika angka tersebut dibandingkan dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia, maka pendapatan nasional bruto per kapita Indonesia ada di angka US$ 3.840. Menempatkan Indonesia di ranking 120 dunia. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa pemerataan kesejahteraan masih harus kita perjuangkan bersama," papar Bamsoet.

Tokoh Ulama Nasional Gus Miftah yang juga ada dalam acara tersebut menambahkan, Indonesia merupakan Rumah Besar yang di dalamnya terdapat berbagai kamar yang terdiri dari bagi berbagai suku, agama, ras, dan antargolongan. Jika para pemilik kamar kembali ke kamarnya masing-masing, tidak salah masuk apalagi merusak kamar pemilik lain, niscaya kerukunan, persatuan, dan juga perdamaian akan tetap terwujud.

"Mereka yang gagal paham dalam kebhinekaan, menjadi mudah menistakan agama yang lain, menyemarakan intoleransi, serta berujung pada sikap radikal. Agar tidak gagal paham, ikutlah pendapat ahli. Jangan ikut orang yang ahli berpendapat. Tentang hati, ibadah, dan keyakinan beragama merupakan wilayah privat yang tidak bisa dicampuradukkan oleh orang lain. Tapi dalam muamalah, kita bisa berjalan bersama," pungkas Gus Miftah.

Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Husein Sagaf, Anggota Komisi IV DPR RI AA Bagus Adhi Mahendra Putra.

Hadir pula para Ketua dan perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama Bali, para rektor dan perwakilan dari berbagai universitas Bali, serta para perwakilan mahasiswa Papua dan elemen mahasiswa lainnya. Hadir secara virtual para Kapolres dan Kapolsek se-Bali.

(ega/ega)