Saksi Ini Diminta Stafsus Edhy Ambil Duit Rp 750 Juta untuk Bayar Rumah

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Selasa, 18 Mei 2021 18:42 WIB
Suasana Sidang Suap Edhy Prabowo dkk
ilustrasi (Foto: Suasana Sidang Suap Edhy Prabowo dkk (Arun-detikcom)
Jakarta -

Seorang wiraswasta bernama Iwan Febrian mengaku pernah diminta staf khusus (stafsus) Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi, mengambil uang dari seseorang sebesar Rp 750 juta. Iwan menyebut uang itu untuk untuk membayar utang.

Hal itu disampaikan Iwan saat bersaksi dalam kasus suap ekspor benur di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (18/5/2021). Iwan hadir secara virtual. Iwan mengenal Andreau di restorannya dan dikenalkan mentornya yang juga mantan stafsus di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Itu sekitar November 2019. Jadi saya punya warung makan Padang, belum restoran. Terus di sana tuh banyak tamu duduk-duduk, salah satunya Pak Andreau," kata Iwan dalam persidangan.

"Beliau caleg PDIP di Jakarta apa di mana aku lupa, caleg gagal. Nggak duduk," imbuhnya.

Iwan juga menyampaikan kalau dirinya pernah ditelepon Andreau. Ditelepon itu Iwan diminta untuk bertemu dengan teman Andreau bernama Anton. Dari sana, Anton menitipkan tas agar disampaikan kepada Andreau.

"Benar, pernah pak. Itu ceritanya tanggal 7 Juli kalau nggak salah, saya ditelepon oleh Pak Andreau, minta tolong ketemu orang, ketemu temannya. Waktu itu saya sedang berada di Glodok. Terus saya langsung lah ketemu orang tersebut, yang ternyata itu Pak Anton. Pak Anton ini pernah saya ketemu waktu Desember atau Januari, saya lupa, ketemu sama dia. Beliau kasih tas, tolong titipkan ke Andreau, di Hotel Sahid, di kafenya, belakang," jelasnya.

Iwan sempat marah kepada Andreu karena dilibatkan dalam urusan ini. Andreau kata Iwan mengatakan tidak ada orang lain lagi yang bisa dimintai bantuan.

"Saya langsung telepon Pak Andreau, 'Bang ini jangan suruh-suruh saya gini, karena kan saya nggak pernah disuruh Bang Andreau urusan seperti ini selain urusan kita, paling bisnis belanja-belanja ikan, nggak ada urusan kita yang lain, apalagi nyebut uang," ungkap Iwan.

"Langsung saya telepon Bang Andreau dan langsung saya marah ke Bang Andreau waktu itu. Terus Bang Andreau langsung bilang, 'Bro, gua lagi di luar kota, nggak ada lagi orang yang minta tolong, ini buat bayar utang. Setahu saya Bang Andreau memang punya utang. Dia pernah cerita utang dia kampanye. Jadi saya berpikiran oh ini uang nggak tau dia pinjam dari mana, terus dia ngutang, terus dia minta tolong, saya bayarkan," lanjutnya.

Iwan menyebut tas tersebut berisi uang Rp 750 juta. Anton, kata Iwan juga menyampaikan akan ada uang yang dititipkan lagi sebesar Rp 250 juta, namun akan ditransfer.

"Iya (uang), dia mengatakan isinya Rp 750 juta. Terus dia bilang juga nanti Rp 250 jutanya lagi hari Jumat," kata Iwan.

Iwan meminta temannya, Ade, untuk mentransfer uang itu lewat bang. Dia mengatakan uang itu untuk pemilik rumah di Cilandak.

"Saya langsung antarkan Ade ke bank karena saya ada urusan. Saya suruh transfer ke rekening yang disuruh Bang Andreau. Saya lupa (atas nama siapa). Cuma penyidik sudah bilang atas namanya, itu ke orang yang punya rumah di Cilandak," jelasnya.

Jaksa sempat menanyakan apakah rekening yang diberitahukan Andreau atas nama Yusuf. Iwan mengaku tidak ingat terkait nama rekening itu, yang dia tahu dari penyidik uang itu untuk keperluan membayar rumah di Cilandak.

"Langsung kita transfer, setor tunai ke bank langsung ke nomor yang dikasih Andreau, bank BCA. Beritanya waktu itu saya kurang ingat, pokoknya bayar rumah gitu. Bayar rumah apa saya nggak ngeh, ternyata bayar rumah Cilandak," ucapnya.

(run/eva)