BPS Ungkap Angka Pengangguran Sumsel Turun Jadi 5,17%

Erika Dyah - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 22:27 WIB
wawancara kerja
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan mencatat adanya penurunan angka pengangguran di wilayah tersebut. Kendati masih berada di tengah pandemi, data BPS Sumsel menunjukkan angka pengangguran sampai dengan bulan Februari 2021 mengalami penurunan dibandingkan bulan Agustus 2020.

Kepala BPS Provinsi Sumsel, Endang Tri Wahyuningsih menerangkan angka ketenagakerjaan pada Februari 2021 sebanyak 4,44 juta orang, naik 115,2 ribu orang dibanding Agustus 2020. Ia menambahkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, yakni sebesar 1,30% poin.

"Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2021 sebesar 5,17% turun 0,34% poin dibandingkan Agustus 2020 sebesar 5,51%," kata Endang dalam keterangan tertulis, Senin (17/5/2021).

Lebih lanjut, Endang menyebutkan jumlah penduduk Provinsi Sumatera Selatan yang bekerja pada Februari 2021 sebanyak 4,22 juta orang. Angka ini mengalami penambahan sebanyak 123,7 ribu orang dibandingkan data Agustus 2020.

Ia pun mengungkap lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar yakni sektor Jasa Pendidikan (1,11% poin). Sementara penurunan terbesar dengan angka 2,14% poin dialami oleh sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan.

"Sebanyak 2,75 juta orang (65,18%) bekerja pada kegiatan informal, turun 0,08 % poin dibanding Agustus 2020. Persentase pekerja setengah penganggur turun sebesar 1,61% poin, sementara persentase pekerja paruh waktu naik sebesar 0,93% poin dibandingkan Agustus 2020," jelasnya.

Selain itu, Endang pun menyebutkan terdapat 390,5 ribu orang atau 6,14 % penduduk usia kerja yang terdampak COVID-19. Adapun jumlah ini terdiri dari pengangguran karena COVID-19 sebanyak 27,8 ribu orang serta Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 sebanyak 16,0 ribu orang.

"Sementara itu, tidak bekerja karena COVID-19 ada 20,5 ribu orang, dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 ada 326,1 ribu orang," terangnya.

(mul/mpr)