Bamsoet Cerita di Balik Mimpi Taufiq Kiemas Bangun Sirkuit F1 di Bali

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Minggu, 16 Mei 2021 15:54 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo (Bamsoet) meninjau kembali lokasi lahan yang diajukan untuk pembangunan Sirkuit Formula 1 (F1) di Jembrana, Bali Barat.

Sirkuit tersebut memanfaatkan lahan dengan luas 150-200 hektar milik pemerintah provinsi Bali yang dikelola Perusahaan Daerah Perkebunan Sangiang. Bamsoet mengungkapkan pembangunan Sirkuit F1 dilakukan sekaligus mewujudkan keinginan Mantan Ketua MPR Alm Taufiq Kiemas.

"Selain mengembangkan sport automotif tourism di Jembrana serta Bali Barat pada umumnya, pembangunan Sirkuit F1 juga untuk mewujudkan keinginan almarhum Taufiq Kiemas, yang sempat mendukung agar Bali bisa memiliki sirkuit F1. Untuk mencegah devisa kita lari ke Malaysia dan Singapura. Keinginan almarhum Taufiq Kiemas tersebut sama halnya dengan keinginan kita semua," ujar Bamsoet, Minggu (16/5/21).

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, pembangunan Sirkuit F1 di Jembrana sangat strategis, mengingat sedang dilakukannya proyek pembangunan tol Denpasar - Gilimanuk. Proyek tersebut dapat memangkas waktu tempuh dari Denpasar ke Jembrana menjadi sekitar satu jam. Hal ini akan memudahkan pengangkutan logistik keperluan balap serta pergerakan turis yang ingin menyaksikan kejuaraan balap.

"Keberadaan Sirkuit F1 di daerah Jembrana juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembangan pariwisata di kawasan Bali Barat. Menjadikan turis yang datang ke Bali tidak hanya singgah di Kuta maupun Ubud saja. Melainkan juga menyebar ke berbagai destinasi wisata lainnya hingga ke Bali bagian Barat seperti Jembrana dan sekitarnya. Sekaligus menaikan marwah Indonesia di berbagai negara ASEAN maupun Asia lainnya. Mengingat negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam sudah memiliki sirkuit F1," jelas Bamsoet.

Lebih lanjut Bamsoet menerangkan, setiap pagelaran F1 di Singapura, Singapore Tourism Board (STB) selalu menargetkan sedikitnya lima ribu penonton dari Indonesia. Sementara Corporation Communication Officer Sirkuit Sepang, Malaysia mencatat, dari kisaran 130 ribu penonton F1 di Malaysia, 6 ribu diantaranya berasal dari Indonesia.

"Daripada masyarakat Indonesia harus repot ke negara lain, lebih baik kita siapkan pagelaran F1 di dalam negeri. Sehingga perputaran uangnya tidak lari ke luar negeri," terang Bamsoet.

Ketua Umum IMI ini menambahkan, penyelenggaraan F1 di berbagai negara bisa mendatangkan keuntungan hingga triliunan rupiah. Sebagai contoh, perusahaan akuntan global PricewaterhouseCoopers memperkirakan Azerbaijan mendapatkan keuntungan ekonomi mencapai US$ 506 juta atau sekitar Rp 7 triliun selama empat tahun menyelenggarakan F1.

"Menteri Senior Perdagangan dan Perindustrian Singapura mengumumkan, di tahun pertamanya menggelar Formula 1 pada tahun 2018, Singapura diperkirakan mencatat keuntungan mencapai SGD 168 juta atau sekitar 1,3 triliun rupiah. Hingga kini, rata-rata pendapatan Singapura dari F1, per tahunnya mencapai SGD 140 hingga SGD 150 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun lebih," pungkas Bamsoet.

(ega/ega)