Round-Up

Senggolan Pengantar Jenazah Vs Pengendara di Makassar Lanjut Keributan

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 15 Mei 2021 07:02 WIB
Pengantar jenazah ribut dengan pengendara di Makassar
Keributan pengiring jenazah dan pengendara di Makassar (Tangkapan layar video viral)
Jakarta -

Rombongan iringan jenazah di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), emosional saat tersenggol oleh pengendara. Imbasnya, pengiring jenazah dan pengendara terlibat keributan.

Dalam rekaman video yang viral di salah satu platform medsos, seperti dilihat detikcom pada Jumat (14/5/2021), tampak keributan terjadi di badan jalan yang melibatkan puluhan orang. Keributan tersebut memicu kepanikan pengendara lain.

Selain itu, insiden tersebut memicu kemacetan parah. Klakson pengendara juga bersahut-sahutan.

"Ya Allah, berkelahi di depan BTP, pengantar jenazah," terdengar suara kepanikan warga.

Belakangan diketahui, lokasi insiden tersebut berada tak jauh dari sebuah toko peralatan ponsel di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, pada Kamis (13/5) malam. Pihak kepolisian menyebut perkelahian itu melibatkan rombongan pengantar jenazah dengan pengendara.

"Setelah viral di medsos, anggota pergi cek. Kejadiannya tadi malam di Jalan Perintis," ujar Kasi Humas Polsek Tamalanrea Aipda M Khalil saat dimintai konfirmasi.

M Khalil mengatakan insiden tersebut terjadi karena ada senggolan rombongan pengantar jenazah dengan pengendara lain. Keributan pun pecah di lokasi.

"Jadi (pengendara) mungkin tidak mau minggir atau bagaimana, tahulah kan kalau pengantar jenazah (gampang emosional)," jelas M Khalil.

Namun Khalil menyebut hingga saat ini Polsek Tamalanrea belum menerima laporan lebih lanjut atas insiden perkelahian tersebut. Dia juga menyebut belum ada laporan korban terkait peristiwa itu.

"Sampai sekarang ditunggu ini sempat ada warga yang keberatan atau bagaimana, sampai sekarang belum ada laporan masuk," pungkas M Khalil.

Sosiolog dari Universitas Nasional, Sigit Rohadi, menjelaskan mengantarkan jenazah sampai ke liang kubur merupakan tradisi yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Bahkan penghormatan duka bisa berlangsung lebih lama jika yang meninggal adalah orang terhormat.

"Jadi memang mengantarkan jenazah sampai ke liang kubur itu salah satu tradisi di masyarakat. Zaman dulu, kalau orang itu terhormat, dukacitanya sampai tiga hari. Kalau di desa mengantarkan jenazahnya jalan kaki, kalau di kota naik kendaraan. Tapi tetap sebagai penghormatan," kata Sigit Rohadi saat dihubungi, Jumat (14/5/2021).

Tonton juga Video: Blak-blakan, Ugal-ugalan Mobil Mewah & Pengantar Jenazah

[Gambas:Video 20detik]



Dia menilai pengendara yang menyenggol pengiring jenazah tersebut mengganggu ritual. Karena itu, menurutnya, pengiring jenazah menjadi emosional.

"Orang yang nyenggol kendaraan, yang nyenggol pengiring jenazah itu dianggap mengganggu ritual. Jadi mengganggu ritual sehingga kesucian dan proses kesakralan itu ternoda oleh orang menyenggol. Maka yang muncul adalah emosi," tuturnya.

Dia menjelaskan pengiring jenazah juga merapal doa saat mengantarkan jenazah. Karena itu, hal ini yang membuat kondisi tersebut menjadi sensitif.

"Pengiring jenazah itu bukan hanya mengiring, tapi merapal doa-doa tertentu. Maka seharusnya pengiring jenazah itu memperoleh prioritas. Ini sensitif," ujarnya.

(rdp/rdp)