Kisah Polisi Penyekat Mudik Lebaran Lepas Kangen Via Video Call Keluarga

Yogi Ernes - detikNews
Kamis, 13 Mei 2021 12:16 WIB
Aiptu Wasirin
Foto: Yogi Ernes/detikcom
Jakarta -

Pos penyekatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tidak nampak seramai beberapa hari sebelumnya. Kondisi lalu lintas pun nampak lengang.

Beberapa petugas polisi tetap berada berjaga di pos penyekatan. Namun, di Idul Fitri atau Lebaran 2021 hari ini, di tengah penugasan beberapa polisi yang berjaga menyempatkan diri bersilahturahmi dengan keluarga di kampung halaman secara virtual.

Salah satunya dilakukan oleh Aiptu Wasirin. Pria asal Kulon Progo, Jawa Tengah, itu tampak tengah berbincang dengan keluarganya di kampung.

Melalui sambungan video call, Wasirin melepas kangen dengan kakak pertamanya di kampung. Berbincang hangat menggunakan bahasa Jawa, Wasirin menyampaikan permohonan maaf lahir batin kepada anggota keluarganya tersebut.

"Ini kakak pertama saya. Mbah (ayah) saya sudah sepuh, sudah 95 tahun," kata Wasirin kepada detikcom di pos penyekatan Kedungwaringin, Kamis (13/5/2021).

Silaturahmi virtual tersebut memang berlangsung sebentar. Wasirin harus kembali bertugas di pos penyekatan.

Dia meminta maaf baru bisa bersilahturahmi secara virtual. Meski begitu, momen silahturahmi virtual singkat itu tetap berlangsung hangat.

Pria anggota Polsek Kedungwaringin ini mengaku telah 32 tahun mengabdi di institusi Polri. Desember tahun ini, dia akan memasuki purna tugas.

Di sisa-sisa waktu penugasannya ini, pria dua anak tersebut mengaku akan menjalankan kewajibannya sebaik mungkin. Sama seperti masyarakat lainnya, Wasirin berharap pandemi virus Corona bisa hilang sehingga masyarakat bisa pergi bersilahturahmi secara langsung dengan sanak saudara secara normal kembali.

"Sebentar lagi saya bakal pensiun. Bulan Desember saya sudah habis, pensiun saya. Mudah-mudahan kita dikasih sehat, pensiun selamat dan bisa bebas mudik kalau nggak ada COVID," ujar Wasirin.

Dua tahun terakhir Wasirin bersama rekan-rekan lainnya bertugas melakukan penyekatan warga yang hendak melakukan mudik. Sebagai manusia, dia memahami kerinduan dari warga untuk bisa mudik meski pemerintah telah mengeluarkan kebijakan larangan mudik.

"Sebetulnya ada (rasa kasihan) cuman kan ini karena peraturan pemerintah jadi kita harus laksanakan. Kalau dalam hati ya bagaimana. Cuman memang udah aturan dari pemerintah kita sebagai petugas ya harus laksanakan tugas itu," ungkapnya.

"Ini kita sadari karena ini peraturan pemerintah, kita sebagai pelaksana tugas bukan kemauan pribadi. Tapi untuk kepentingan masyarakat semua bukan kepentingan pribadi," sambungnya.

(ygs/gbr)