Teka-teki Supersemar, Soeharto Merekayasa Supersemar?

Teka-teki Supersemar, Soeharto Merekayasa Supersemar?

- detikNews
Jumat, 10 Mar 2006 23:41 WIB
Jakarta - Teki-teki seputar Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) masih misteri. Kini terkuak adanya perbedaan antara Supersemar yang dulu.Perbedaan itu adalah jumlah halaman Supersemar. Supersemar yang "baru" ini terdiri dari dua halaman. Dan ditandangani Presiden Soekarno.Lembar pertama berisikan perintah pada Soeharto dan lembar kedua berisikan tanda tangan Soeharto."Surat itu adalah pergumulan politik siapa yang menang siapa yang salah selalu ada rekayasan untuk kepentingan dia (Soeharto)," ujar Sejarawan Anhar Gonggong di sela-sela peluncuran buku Memoar Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat (10/3/2006)."Pak Jusuf bukan pembohong, Supersemar adalah proses kekuasaan Pak Harto hingga 30 tahun jadi kalau Pak Jusuf bohong tentu ini jadi masalah besar, tapi saya yakin Jusuf bukan pembohong," tambah Anhar yakin.Dia menjelaskan Supersemar terdiri dari dua lembar dan memang ada tanda tangan Soeharto.Jumlah halaman inilah yang membedakan dengan Supersemar sebelumnya, isinya menurut Anhar sama persis dengan Supersemar yang muncul sebelumnya.Dia juga menegaskan memang Soeharto sangat tahu keberadaan Supersemar asli. Apakah masih ada pada dirinya ataupun sudah berpindah tangan kepada pihak lain."Sejak dari dulu bahkan ketika Soeharto berkuasa, selalu saya katakan, saya tidak percaya kalau Soeharto tidak tahu keberadaan Supersemar," ujarnyaApakah betul Supersemar ini mengungkap kudeta yang dilakukan Soeharto? Anhar menjawab." Yang jelas saat itu adalah pergumulan politik siapa yang menang dan siapa yang salah yang jelas persoalan kudeta telah selesai," katanya.Sementara itu Atmadji Sumarkidjo, penulis buku Memoar Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit menyatakan dirinya diberi fotokopi Supersemar langsung dari mantan Menteri Pertahanan-Keamanan/Panglima ABRI M Jusuf pada tahun 1992. Atmadji menambahkan M Jusuf juga tidak mendapatkan surat asli tapi hanya fotokopi saja."Beliu juga tdak bisa menjelaskan dimana keberadaan Supersemar yang asli dan saya tidak tahu darimana beliau mendapatkan fotokopi itu. Ya memang faktanya seperti itu. dan saya yakin M Jusuf tidak berbohong," ujarnyaM Jusuf dinilai sebagai seorang saksi sejarah yang pada tahun 1973 ingin memaparkan informasi yang disimpannya sejak lama. Dan dianggap sebagai kunci apa yang dipersepsikan banyak orang bahwa Supersemar tidak lain merupakan kudeta yang dilakukan Soeharto pada Presiden Soekarno.Permasalahan kudeta terkait Supersemar menurutnya sudah selesai, sebab Soeharto telah berhenti dari jabatannya dan buku yang dia tulis termasuk untuk membahas sejarah dari Supersemar tersebut."Masalah politik sudah selesai, yang menjadi Presiden akibat surat tersebut telah berhenti, yang kita bahas dadalah sejarahnya," ujarnya. (ddn/)



Berita Terkait