Kapolri Listyo Sigit di Mata 'Devil's Advocate'

Kapolri Listyo Sigit di Mata 'Devil's Advocate'

Sudrajat - detikNews
Senin, 20 Apr 2026 09:17 WIB
Kapolri Listyo Sigit di mata Devils Advocate (Sudrajat/detikcom).
Foto: Kapolri Listyo Sigit di mata 'Devil's Advocate' (Sudrajat/detikcom).
Jakarta -

"Biografi Kebijakan," begitu Prof (Ris) Hermawan 'Kikiek' Sulistyo memposisikan karya terbarunya ini. Subjek utama pembahasannya adalah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP). Namun ia tak menuliskannya seperti biografi pada umumnya yang cenderung linear dan naratif. "Saya gak bisa ngolor," tulis Kikiek yang memang dikenal ceplas-ceplos.

Ia membawa pembaca untuk memahami sosok LSP melalui keputusan-keputusan yang diambil ketika tekanan datang berlapis: politik, opini publik, hingga dinamika internal institusi. Memotret secara makro gagasan-gagasan dan langkah-langkah praksis kebijakan dari posisi filosofis, teori dan konsep.

Kikiek hanya melakukan clustering terhadap penjabaran yang dirinci dalam Program Presisi secara kritis. Ia lebih bertindak sebagai 'Devil's Advocate' alih-alih sekadar merangkainya menjadi puja-puji. Karena itu buku ini tidak jatuh dalam glorifikasi. Tetapi mengakui kompleksitas medan yang dihadapi seorang Kapolri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengalamannya mendampingi enam Kapolri serta rekam jejak akademiknya, termasuk lewat karya seperti Democratic Policing, memberi bobot tersendiri pada analisis yang ditawarkan.

Pada bagian awal, Kikiek menyelipkan fragmen personal yang singkat namun signifikan: kedekatan LSP dengan olahraga judo. Ia meyakini disiplin bela diri ini turut membentuk ketahanan fisik dan mental sang Kapolri.

Kesaksian Irjen Pol Krishna Murti tentang latihan bersama-termasuk kisah ekstrem saat Listyo Sigit membanting 60 pejudo Akademi Kepolisian-memberi sentuhan manusiawi, meski tetap tidak menjadi fokus utama. Tak heran bila di internal kepolisian, LSP kerap diingat sebagai pejudo, bukan sekadar polisi.

Latar keluarga, pendidikan, serta lingkungan sosial-budaya Yogyakarta tempat LSP tumbuh hingga remaja juga disinggung sekilas. Semua itu membentuk sosok yang tegas namun tetap empatik, terukur tanpa kehilangan kelenturan. "Ia mampu melihat kekuasaan bukan sebagai hak, melainkan sebagai tanggung jawab moral," tulis Kikiek.

Dia dua bab terakhir dalam buku ini Prof Kikiek mengupas empat kasus utama yang menjadi ujian terberat bagi LSP maupun institusi kepolisian dan mengaitkannya dengan tagline Presisi LSP secara akademis. Keempat kasus pembunuhan oleh Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo terhadap ajudannya pada pertengahan 2022, Kanjuruhan (1 Oktober 2022), kasus narkoba oleh Kapolda Sumatera Barat Irjen Teddy Minahasa, dan insiden kerusuhan Agustus 2025.

Keempat kasus tersebut menjadi semacam gempa tektonik yang menurunkan kepercayaan publik terhadap polri ke titik terendah dalam dua dekade terakhir. Namun secara perlahan kepercayaan publik kembali bangkit ketika mereka melihat respons cepat, transparan, dan konsisten - bukan karena propaganda tapi ketulusan institusi dalam mengakui kesalahan.

Ketika kerusuhan Agustus 2025 menghantam, tulis Kikiek, LSP tidak mencari kambing hitam lapangan, tetapi memerintahkan audit komando. Ia juga membentuk tim reformasi internal sebagai upaya memperkuat akuntabilitas dan profesionalisme institusi yang dipimpinnya.

"Gaya kepemimpinan LSP yang tenang, rasional, dan empatik menciptakan ruang refleksi di tengah polarisasi public," tulis Kikiek.

Judul buku: Alter Ego Listyo Sigit Presisi Sebuah Biografi Kebijakan
Penulis: Hermawan Sulistyo
Penerbit: Pensil 324
Terbitan: 2026
Tebal: 246 halaman

Tonton juga video "Kapolri Buka Posko Pengaduan Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS"

(jat/whn)


Berita Terkait