Akhir Jejak Pembunuh Ibu dan 2 Anak Gegara Utang di Sulteng

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 10:53 WIB
Kursi terdakwa di pengadilan
Foto: Ilustrasi ruang sidang (Ari Saputra/detikcom)

Kemudian lelaki itu bertanya lagi, di manakah orang yang paling alim di atas bumi ini? Lalu berkata: "Sesungguhnya ia telah membunuh 100 orang. Maka apakah masih ada kesempatan untuk diterima taubatnya?"

Orang alim itu menjawab: "Ada, dan tiada seorang pun yang dapat menghalangi untuk bertaubat. Sekarang pergilah ke kota itu sebab sesungguhnya di sana banyak orang-orang yang menyembah Allah Yang Maha Tinggi. Oleh karena itu, beribadahlah bersama mereka dan kamu jangan kembali ke daerahmu lagi. Sebab daerahmu adalah daerah yang penuh dengan maksiat".

Maka berangkatlah ia ke kota itu untuk beribadah. Tiba-tiba ditengah perjalanan ia mati! Maka bertengkarlah Malaikat Rahmat dengan Malaikat Azab - untuk memperebutkan siapakah yang lebih berhak mengatasi nasib orang ini.

Lalu Malaikat Rahmat berkata: "Dia telah datang kepada kami, untuk menghadap kepada Allah Yang Maha Tinggi". Lalu Malaikat Azab berkata: "Dia tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali".

Akhirnya ada malaikat yang datang berupa manusia. Lantas kedua malaikat itu mengangkatnya sebagai hakim, kemudian malaikat yang terakhir ini berkata:

"Sekarang ukurlah antara jarak yang sudah tempuh dengan jarak yang akan dituju, mana di antara dua daerah itu yang lebih dekat?" lalu diukur dan nyata lebih dekat pada kota yang dituju, lalu diambil oleh Malaikat Rahmat.

Di dalam hadits lain diterangkan, bahwa ketika kedua malaikat itu sedang mengukur jarak, Allah memerintahkan kepada bumi yang berada di antara tempat itu dengan tempat yang dituju menjadi lebih dekat, bedanya hanya satu jengkal. (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih Bukhari juz. 6 hal. 373 dan Shahih Muslim Hadits No. 2766);

"Berdasarkan ayat Al-Qur'an dan hadits di atas dihubungkan dengan fakta yang terungkap di persidangan telah ternyata ketika Terdakwa di hadapan persidangan diberikan kesempatan oleh Majelis Hakim untuk menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban yang mana pada saat itu disampaikan langsung oleh Terdakwa kepada saksi suami sah dari korban dan selaku ayah kandung dari korban menanggapi dengan menyatakan telah memaafkan Terdakwa, namun proses hukum agar tetap berjalan sebagaimana mestinya,"papar majelis hakim dengan bulat.


(asp/aud)