Sidang Isbat 2021 Digelar Nanti Sore, Kenali Sejarahnya di Indonesia

Rahma I Harbani - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 07:25 WIB
Jakarta -

Kementerian Agama (Kemenag) secara resmi mengumumkan sidang isbat penentuan 1 Syawal 1442 H dijadwalkan digelar hari ini, Selasa (11/5/2021) secara daring dan luring. Rangkaian sidang isbat direncanakan dimulai sekitar pukul 16.45 WIB.

Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Agus Salim, dalam menerapkan metode rukyah, diketahui terdapat 88 titik yang akan dijadikan tempat untuk memantau rukyatul hilal. Di Jakarta, Kemenag memantau hilal di Gedung Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta lantai 7, Masjid Al-Musyariin Basmol Jakarta Barat, Pulau Karya Kepulauan Seribu, dan Masjid KH Hasyim Asy'ari, Jakarta Barat.

Sebelum resmi dikeluarkan kapan tepatnya pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 2021, perlu diketahui sejarah sidang isbat dalam penentuan 1 Syawal di Indonesia berikut.

Sejarah sidang isbat ditulis oleh Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Pelaksana Lanjutan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Tangerang Moh Iqbal Tawakal dalam tulisannya berjudul Kilas Balik Penetapan Awal Puasa Dan Hari Raya Di Indonesia.

Masa sebelum kemerdekaaan di Indonesia, penetapan awal bulan Qomariah tidak dilakukan melalui musyawarah antar ormas Islam atau yang dikenal dengan sidang isbat. Jadi, saat itu belum dikenal sidang isbat.

Jepang, pemerintah yang berkuasa saat itu, pun tidak mengatur hal-ha seperti itu. Sehingga, awal Ramadhan dan Idul Fitri ditentukan oleh masing-masing ketua adat di lingkungan masyarakat setempat.

Kelompok masyarakat tersebut adalah Aboge di Purbalingga, Wakal di Maluku, dan Gowa di Sulawesi. Iqbal mengungkapkan setiap ketua memiliki perhitungan masing-masing, sehingga awal Ramadhan dan lebaran kerap kali terdapat perbedaan meski masih dalam wilayah yang sama.

Berbeda halnya penentuan awal Ramadhan dan Syawal pada saat Indonesia masih berbentuk kerajaan.

"Ketika masa kerjaan-kerajaan Islam masih berdiri di Indonesia, penetapan awal bulan Qamariyah ditentukan oleh keputusan raja. Masyarakat tunduk dan patuh akan keputusan,
sehingga menjadi seragam dan tidak ada perbedaan pemahaman. Hal ini dikarenakan keputusan awal bulan sudah dilegalkan dan disahkan oleh yang berkuasa pada saat itu," tulis Iqbal yang dikutip detikcom, Selasa (11/5/2021).

Pada 4 Januari 1946, tepatnya setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai menunjuk Kementerian Agama untuk menentukan Idul Fitri dan Idul Adha.

Penentuan ini bertujuan untuk menentukan hari libur nasional saat itu. Ketetapan tersebut tidak dapat diikuti seluruh umat Islam saat itu, hingga pemerintah membentuk Badan Hisab Rukyat atau BHR.

Dibentuklah BHR pada 16 Agustus 1972. Badan ini difungsikan menyeragamkan pemahaman dan penentuan tanggal 1 pada bulan Hijriyah.

Selain itu, tugas BHR lainnya adalah melakukan pengkajian, penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan hisab rukyat, serta pelaksanaan ibadah terkait arah kiblat, waktu sholat, awal bulan, waktu gerhana bulan, dan matahari.

Iqbal mengatakan BHR telah mengalami perkembangan dan penyempurnaan dalam menentukan kriteria awal bulan Qomariyah.

Klik halaman selanjutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2