Pesan Polri dari Penangkapan Pria Provokator Terobos Penyekatan Mudik

Kadek Melda - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 13:00 WIB
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi,
Brigjen Slamet Uliandi (Foto: dok. screenshot YouTube SiberTv)
Jakarta -

Eks Wakil Ketua FPI Aceh Wahidin yang viral mengajak masyarakat menerobos penyekatan mudik telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Polri berharap masyarakat memahami tujuan pemerintah melarang mudik, tak lain untuk mencegah penyebaran COVID-19.

"Masyarakat kami harap dapat memahami latar belakang larangan mudik dan diterapkannya penyekatan di jalur-jalur mudik. Upaya-upaya ini dilakukan untuk mencegah penularan virus COVID-19, bersamaan dengan program vaksinasi nasional yang digalakkan di seluruh wilayah untuk tujuan yang baik bagi kita semua, yaitu membebaskan negara kita dari situasi pandemi COVID-19," kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi, Senin (10/5/2021).

Slamet sangat menyayangkan seruan terobos penyekatan mudik yang dilakukan W di tengah situasi pandemi COVID-19. Seruan itu juga, kata Slamet, mengandung unsur SARA.

"Apa yang dilakukan Saudara W sangat tidak bijak dengan mengajak masyarakat melakukan mudik, memadati penyekatan, bahkan mengajak menerobos penyekatan dibumbui narasi SARA," ujarnya.

Lebih lanjut, Slamet mengatakan virtual police akan terus memantau berbagai konten di media sosial. Sasaran kontennya adalah yang berbau provokatif hingga SARA yang berpotensi dapat memecah belah bangsa.

"Virtual Police akan terus memantau konten-konten di media sosial yang terindikasi bersifat provokatif dengan narasi ujaran kebencian, SARA, memecah belah bangsa," imbuhnya.

Konten video yang dibuat W terjaring virtual police. Polisi kemudian meminta pendapat para ahli untuk menganalisis narasi yang diucap W.

Pendapat ahli bahasa: Hasutan melakukan perlawanan. Penghinaan kepada penguasa dan penyebaran pemberitahuan bohong.

Pendapat ahli pidana: Selain menghasut pasal 160 KUHP, juga merupakan pernyataan yg ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian berdasar SARA pasal 28 ayat (2), serta ini merupakan penghinaan terhadap penguasa pasal 207 KUHP.

Pendapat ahli sosiologi: Ujaran kebencian, dimana sikap dan pernyataan pelaku ditujukan untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian berdasarkan SARA, sebagaimana dimaksud pasal 28 ayat (2). Tindakan penghasutan atau menghasut untuk melawan hukum sebagaimana dimaksud pasal 160 KUHP. Tindakan menghina atau penghinaan kepada penguasa (badan hukum) sebagaimana di maksud pasal 207 KUHP.

Sebelumnya, Wahidin diamankan pada Minggu (9/5) pukul 16.00 WIB. Penangkapan Wahidin berdasarkan laporan polisi LP.A/53/V/2021/SPKT.DITRESKRIMSUS/POLDA ACEH, tanggal 09 Mei 2021.

Dalam video yang viral, Wahidin tampak duduk di dalam mobil sembari memangku anak kecil. Terlihat juga seorang anak kecil lain di kursi belakang.

"Kepada saudara-saudaraku semua yang sedang mudik di mana pun antum berada, terus mudik. Harus bersama-sama, ramaikan di tempat penyekatan-penyekatan," ujar pria tersebut dari video beredar seperti dilihat pada Minggu (9/5).

"Lawan, terobos mereka, pulang, jumpai orang tua, jumpai ibumu, jumpai ayahmu, jumpai anakmu, jumpai sanak saudaramu. Minta keampunan dari Allah SWT, minta kerelaan, minta keridhoan kedua orang tua. Jangan pernah takut dengan rezim setan iblis yang sudah dikuasai komunis. Mereka bekerja untuk komunis," tambahnya.

Lihat Video: Pengendara Tabrak Petugas Penyekatan di Klaten

[Gambas:Video 20detik]



(knv/knv)