Kolom Ramadhan

Mudik Akbar

M Kholid Syeirazi - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 06:59 WIB
M. Kholid Syeirazi, Sekjen PP ISNU
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Pemerintah resmi memberlakukan larangan mudik per 6 Mei 2021. Ini keputusan yang tepat dan patut didukung. Bercermin dari kasus India, lonjakan kasus Covid-19 dipicu oleh ritual keagamaan Kumbh Mela. Tanpa mengindahkan protokol kesehatan, jutaan orang mandi bersama di Sungai Gangga untuk membersihkan dosa. Festival keagamaan ini diduga turut memicu lonjakan kasus Covid-19 yang meruntuhkan sistem kesehatan India. Indonesia, tanpa langkah terpimpin untuk memotong rantai penularan, bisa mengalami nasib serupa. Langkah Pemerintah melarang mudik adalah kebijakan yang selaras dengan maqâsid syarî'ah yaitu melindung jiwa manusia (hidz al-nafs).

Islam dan Problem Sosial


Islam datang dengan ajaran untuk memimpin manusia menyelesaikan masalahnya. Manusia sejagat tengah bergelut melawan Covid-19. Agama, sebisa-bisanya, harus menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Atas nama keyakinan, agama tidak boleh dibenturkan dengan ikhtiar global melawan pandemi. Ketika ulama di seluruh dunia ijmak meniadakan salat Jum'at (ta'thîl al-jum'at), Islam tampil sebagai bagian dari solusi. Argumen dan dalih-dalih kontra, seperti kenapa pasar dibuka tetapi masjid ditutup, lahir dari mispersepsi terhadap ajaran Islam. Islam tidak boleh dikontestasikan dengan keburukan. Kalau dunia di luar buruk, tidak lalu Islam boleh berlomba di dalamnya. Sebaliknya, kalau dunia di luar baik, Islam boleh bersaing di dalamnya. Kalau non-Muslim produktif, berani, cerdas, disiplin, dan inovatif, Muslim bukan hanya boleh meniru, tetapi disuruh mengejar dan melampauinya. Inilah semangat doktrin Alqur'an sebagaimana ditegaskan di dalam QS. An-Nisâ/4: 104 dan QS. Ali Imrân/3: 140.

Islam menuntut pemeluknya menjadi pioneer dalam kebaikan (QS. Al-An'âm/6: 160). Jika perilaku orang di pasar kacau, Muslim di masjid harus menunjukkan perilaku yang tertib dan disiplin. Masjid harus jadi role model dalam disiplin prokes. Salat jama'ah tetap harus mematuhi prokes, menjaga jarak dan mengenakan masker. Hukum merapatkan shaf dalam salat jamaah itu sunnah, sementara memelihara jiwa itu wajib. Tidak bisa, atas nama sunnah, mengalahkan wajib. Silaturahim dan berkunjung ke sanak keluarga sunnah, tetapi menjaga keselamatan diri dan orang lain wajib. Tidak boleh membahayakan diri dan orang lain: « لا ضررولا ضرار».

Mudik adalah tradisi yang baik. Orang pulang kampung, kembali ke asal, silaturahim dan halalbihalal. Tapi ada bahaya mengancam. Setiap kerumunan adalah ladang subur penularan. Jangan sampai tradisi keagamaan jadi sumber malapetaka, seperti festival mandi bersama di sungga Gangga, India. Kita tidak mudik tahun ini, untuk menyiapkan mudik yang lebih besar: mudik akbar.

Mudik Akbar

Kampung asal manusia adalah surga. Dulu, nenek moyang kita, Nabi Adam dan Bunda Hawa, adalah penduduk surga. Karena kesalahannya, mereka diusir dari surga dan ditempatkan di bumi. Bagi mereka, dan anak cucunya, tempat tinggal dan kesenangan sementara di dunia (QS. Al-Baqarah/2: 36). Para nabi dan rasul diutus untuk mengingatkan anak cucu Adam tentang asal-usul mereka. Kampung asal mereka adalah surga. Itulah tempat kembali bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk para nabi. Ajaran semua nabi dan rasul adalah tauhid. Hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah. Siapa pun yang mengucapkan kalimat tauhid, haram baginya neraka (HR. Bukhari-Muslim). Kalimat tauhid, yang diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati, dan diaktualisasikan dalam perbuatan, adalah kunci kembali ke kampung asal.

Ramadan seumpama bulan promo. Allah banyak sekali menjanjikan pintu kemuliaan, yang diperoleh karena manusia meneladani sifat Allah. Allah tidak makan dan minum. Allah juga tidak punya pasangan hidup. Puasa membatasi makan dan minum serta hubungan seks. Dimensi ibadah ini ganda: vertikal dan horizontal. Secara vertikal, puasa menegaskan tauhid, hanya Allah Tuhan yang pantas disembah. Hanya Allah yang berdiri sendiri, tanpa bergantung sedikit pun kepada pihak lain. Allah hidup tanpa makan-minum dan berpasangan. Siapa pun, yang bergantung makan untuk bertahan hidup, tidak mungkin dipertuhan. Secara horizontal, puasa menegaskan dimensi kemanusiaan. Manusia diciptakan lemah. Hidupnya bergantung kepada sepiring nasi dan segelas air. Manusia, sehebat apa pun, lunglai lesu jika tidak makan dan minum. Apa yang patut disombongkan dari makhluk yang hidupnya bergantung kepada makanan? Puasa mengajari manusia untuk menyadari kelemahannya sendiri sehingga berempati dengan kepapaan pihak lain. Dia merasakan rasa lapar sejenak, agar bisa merasakan derita orang-orang miskin yang tidak pernah kenyang. Di sini tumbuh solidaritas, empati, dan kepekaan sosial.

Menahan diri dari kecukupan pangan adalah latihan spiritual agar manusia tidak tergelincir dari fitrahnya. Bagaimana pun, hidup serba cukup bisa menjadikan manusia jumawa. "Sekali-kali tidak! Sungguh manusia benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup." (QS.Al-Alaq/96: 6-7). "Dan seandainya Allah melapangkan rezeki hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi.." (QS. Syûra/42: 27). Puasa mengasah fitrah manusia untuk menyadari kepapaannya. Membatasi akses terhadap pangan mengasah kepekaan spiritual bahwa kita tergantung kepada Allah dan karunia-Nya. Tidak makan-minum menjadi istimewa karena manusia meneladani sifat Allah, karena itu Allah sendiri yang akan menilainya.

Ketika Adam dan Hawa diusir dari surga, kesalahannya adalah gagal menahan dorongan untuk makan dari buah pohon terlarang. Setelah makan, keduanya kemudian tersingkap auratnya. Sebagian ulama menafsirkan momentum itu sebagai hubungan suami-isteri. Berawal dari kejahatan perut, berujung dengan kejahatan bawah perut. Dua kejahatan itu adalah simbol dari sumber ketergelinciran manusia. Puasa mengajarkan manusia mengelola nafsu perut dan bawah perut. Manusia, ketika tirakat dari kebutuhan jasmani, dia sedang mikraj menjadi manusia rohani. Ketika manusia kembali kepada fitrahnya, itulah sejatinya mudik akbar. Manusia penduduk surga yang terlempar ke bumi, berkalang tanah, bergelut lumpur. Ramadan mencuci noda agar manusia kembali fitri. Itulah mudik yang sejati.

M Kholid Syeirazi

Sekretaris Umum PP ISNU

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)