Benarkah Gaji Penentu Kebahagiaan? Ini Kata Milenial

Inkana Putri - detikNews
Kamis, 06 Mei 2021 17:10 WIB
cxo media
Foto: CXO Media
Jakarta -

Gaji sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan seseorang. Namun, benarkah gaji menentukan kebahagiaan seseorang? Bicara soal gaji, setiap orang tentu memiliki besaran dan cara pengelolaan yang berbeda. Salah seorang Graphic Designer, Dinda (26) merasa telah bahagia dengan gajinya saat ini. Mengingat gajinya saat ini telah dapat memenuhi kebutuhannya mulai dari tabungan hingga barang mewah.

"Income aku kurang lebih Rp 100 juta per tahun, jumlah yang aku tabung setiap bulan itu sekitar 10-15 persen per bulan. (Untuk kebutuhan) luxury things yang aku lakukan tiap bulan kurang lebih Rp 500 ribu - Rp 1 juta untuk skincare," ujarnya dalam Perspektif Eps. 37 di Channel YouTube CXO Media

"Kalau ditanya happy sih iya karena aku merasa cukup sama yang aku punya, tapi kalau ada kesempatan untuk lebih kenapa nggak," katanya.

Dinda bercerita rasa bahagia ini tentunya tak terlepas dari perjuangannya di masa lalu. Sejak dirinya lulus, ia mengaku sempat merasa kesulitan mencari kerja. Hal inilah juga yang akhirnya membuat Dinda merasa cukup karena telah memiliki penghasilan seperti saat ini.

"Mungkin titik terendahnya waktu baru lulus karena belum kerja, cari kerja juga susah. Yang penting sih selalu jangan pernah pengeluaran lebih banyak dari tabungan, jadi selalu within the budget aja," ungkapnya.

Senada dengan Dinda, Social Media Executive, Tasha (23) pun merasakan kebahagiaan yang serupa dari penghasilan Rp 80-Rp 100 juta per tahunnya. Menurutnya, gaji yang ia miliki sekarang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini, termasuk saat ia berhasil melewati krisis finansial.

"Happy karena gue merasa cukup. (Masa) itu juga menjadi salah satu alasan kenapa gue bisa happy sih. Karena gue udah berusaha survive di masa itu, jadi sekarang gue lebih ngerti untuk mengontrol duit. Jadi dulu tuh gue pernah bikin project sama temen gue dan ternyata itu gagal. Dan pola hidup gue tuh kayaknya masih kalau gue punya duit segini ya gue abisin," jelasnya.

"Titik itu juga ngajarin gue kalau punya gue tuh nggak semuanya punya gue. Di situ gue belajar apa yang gue milikin itu ada hak orang lain di dalamnya. Kalau lo berbagi ke orang lain, nikmat yang lo dapet tuh akan jauh lebih banyak," imbuhnya.

Menariknya lagi, dari penghasilannya sekarang, Tasha menyebut telah bisa menyisihkan dana untuk tabungan sebesar 30-35 persen dari gajinya, serta memenuhi kebutuhan lainnya seperti bayar tagihan hingga zakat.

Di sisi lain, seorang Sekretaris, Caca (27) dengan penghasilan Rp 150 juta per bulan merasa bahagia dan cukup. Terlebih saat ini, ia dapat membantu membiayai adiknya kuliah dari penghasilannya tersebut.

"Alhamdulillah happy," ungkapnya.

Meskipun telah merasa bahagia dan cukup dengan penghasilannya, Caca mengaku tetap mempersiapkan dana darurat jika terjadi sesuatu terhadap penghasilannya. Adapun dana darurat yang ia siapkan, yakni berupa emas yang dibeli dari penghasilannya.

Meskipun telah menyiapkan tabungan emas, ia mengatakan ingin mencoba instrumen investasi lainnya, seperti deposito melalui tabungan syariah. Menurutnya, bank syariah telah mengikuti aturan agama Islam sehingga jauh dari riba.

"Sejauh ini aku kan mengelola dana darurat ini dengan dana emas ya, tapi tidak per bulan. Nah, makin ke sini banyak temen yang merekomendasikan deposito, dan tentunya tidak di bank konvensional. Begitu tau kalau Bank Mega Syariah menerima deposito dalam bentuk syariah itu tertarik sih mau coba. Apalagi bank syariah itu buka pendaftarannya mudah dan cepat," pungkasnya.

(mul/ega)