Bagaimana Hukum Zakat Fitrah Takjil, Berikut Ini Pandangan Para Ulama

Kristina - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 15:51 WIB
Concept of zakat in Islam religion. Selective focus of money and rice with alphabet of zakat on wooden background.
Bagaimana Hukum Zakat Fitrah Takjil, Berikut Ini Pandangan Para Ulama (Foto: Getty Images/iStockphoto/Mohamad Faizal Bin Ramli)
Jakarta -

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim di bulan Ramadhan. Zakat ini berupa makanan pokok yang dikonsumi sehari-hari.

Kewajiban mengeluarkan zakat tertuang dalam Q.S Al-Baqarah ayat 110 sebagai berikut,

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya:" Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan."

Menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagaimana dikutip dalam situs resminya, waktu wajib membayar zakat fitrah menurut hukum dilakukan saat matahari terbenam di hari terakhir Ramadhan menuju Idul Fitri.

Selain waktu wajib ada waktu sunnah, mubah makruh, dan haram dalam mengeluarkan zakat. Waktu sunnah membayar zakat adalah waktu sholat subuh dan sebelum sholat Idul Fitri. Sementara itu, waktu mubah dilakukan pada awal bulan Ramadhan sampai hari terakhir Ramadhan.

Selanjutnya, waktu makruh dilakukan setelah sholat Idul Fitri namun sebelum matahari terbenam di hari itu. Terakhir, waktu haram untuk mengeluarkan zakat adalah setelah matahari terbenam pada saat hari Idul Fitri.

Lalu, bagaimana dengan zakat fitrah yang dibayarkan sebelum waktunya? Pembayaran zakat jenis ini sering disebut dengan zakat fitrah takjil. Takjil diartikan sebagai "menyegerakan" atau "mengawalkan".

Dilansir dari situs Kemenag Jawa Tengah, zakat yang dikeluarkan haruslah memenuhi syarat nisab dan haul. Nisab merupakan jumlah minimal harta yang wajib dizakati. Sedangkan haul adalah putaran waktu selama satu tahun. Ketentuan nisab dan haul ini biasanya digunakan untuk mengukur zakat maal.

Kemenag Jawa Tengah menjelaskan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait mengeluarkan zakat sebelum waktunya. Berikut pandangan para ulama terkait zakat yang ditunaikan lebih awal atau takjil

1. Tidak boleh mentakjil zakat

Pendapat ini dikeluarkan oleh Hasan Al Basri, Malik, Dawud Dhairi, Ibnu Munzir dan Ibnu Huzaimah. Mereka berpendapat bahwa haul dan nisab zakat sama halnya dengan waktu sholat, puasa dan haji.

Menurut pandangan ulama ini, masing-masing memiliki waktu tersendiri. Tidak sah melakukan sholat jika belum masuk waktu sholat. Begitu pula dengan puasa bulan Ramadhan, tidak sah menjalankan puasa Ramadhan jika belum masuk bulan Ramadhan. Sama halnya dengan ibadah haji yang dilakukan di luar bulan haji, maka hajinya tidak sah.

Para ulama menyamakan ketentuan zakat dengan ibadah sholat, puasa, dan haji berdasarkan dalil dari Imam Malik,

عن مالك عن نافع أن عبد الله بن عمر كان يقول :لا تجب في مال زكاة حتى يحول عليه الحول

Dari Malik, dari Nafi' dari Abdullah bin Umar berkata, "tidak wajib zakat harta yang dimiliki belum genap satu tahun". (HR. Malik)

2. Boleh mentakjil zakat


Pendapat ini dikeluarkan oleh Sa'id bin Jubeir, Az zuhri, Auza'i, Abu Hanifah, Syafii, Ishaq dan Abu Ubaid. Jumhur ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,

عنْ عَلِىٍّ أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فِى تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِى ذَلِكَ. قَالَ مَرَّةً فَأَذِنَ لَهُ فِى ذَلِكَ

Dari Ali ra bahwa Abbas bertanya kepada Nabi tentang ta'jil membayar zakat, Nabi membolehkan perbuatan itu. Ia berkata sekali lagi, perbuatan itu dibolehkan. (HR. Abu Dawud)

Para ulama megqiyaskan pendapat ini dengan seseorang yang membayar utang sebelum jatuh tempo. Maka, perbuatan seperti itu diperbolehkan. Menurutnya, kewajiban zakat seperti utang seorang hamba kepada Tuhannya, maka membayar zakat sebelum sampai haul diperbolehkan.

Takjil zakat merupakan amalan sunnah sebagaimana yang dilakukan oleh nabi SAW untuk pamannya Abbas bin Abdul Muthalib. Hal inilah yang menjadikan para ulama memperbolehkan membayar zakat sebelum waktunya. Bahkan sebelum terpenuhinya hisab karena diyakini pada saat haulnya sampai angka nisab juga akan sampai.

Itulah pandangan para ulama terkait zakat fitrah takjil. Setidaknya ada dua perbedaan pendapat dalam hal ini.

(erd/erd)