8 Kali Selundupkan Baby Lobster ke Singapura, Begini Modus Pelaku

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 23:20 WIB
Polres Bandara Soekarno-Hatta menggagalkan penyelundupan baby lobster ke Singapura, Selasa (4/5/2021).
Polisi menggagalkan pengiriman 72 ribu lebih baby lobster ke Singapura. (Kadek Melda/detikcom)
Tangerang -

Polisi menggagalkan penyelundupan 72.288 ekor baby lobster ke Singapura. Para pelaku diketahui sudah 8 kali menyelundupkan baby lobster yang disamarkan dengan sayuran selada air.

"Sayuran selada air di-packing dicampur benih lobster untuk mengelabui petugas bandara," ujar Kapolres Bandara Soekarno Hatta Kombes Adi Ferdian Saputra saat jumpa pers di kantornya, Tangerang, Banten, Selasa (4/5/2021).

Dalam kasus ini, polisi menangkap 4 pelaku. Mereka adalah HZ, AFA, DS, dan B.

"Saudara HZ atau H ini berprofesi direktur PT Berlian Abadi. Perusahaan ini sendiri setelah kita tindak lanjuti ternyata merupakan perusahaan fiktif untuk menyamarkan proses pengiriman," jelasnya.

Kasus ini terungkap setelah polisi menerima informasi akan adanya pengiriman baby lobster dalam 22 boks styrofoam di terminal kargo Bandara Soekarno-Hatta. Pengiriman 22 boks itu dideklarasikan sebagai sayuran.

"Setelah dilakukan pengecekan, ternyata benar didapati bahwa terdapat 34 koli yang dideklarasikan sebagai vegetables atau sayuran yang ternyata diselipkan 253 kantong berisikan benih lobster dengan disamarkan sayuran," ungkapnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta Kompol Alexander Yurikho mengatakan para pelaku sudah 7 kali mengirimkan baby lobster ke Singapura. Namun, pada saat pengiriman yang kedelapan kali berhasil digagalkan petugas.

"Yang tujuh kali sebelumnya itu ada 48 boks yang sudah dikirimkan ke Singapura," katanya.

Kepala Kantor Balai Besar Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Keamanan Hasil Perikanan Jakarta 1 Habrin Yake menyampaikan benih bening lobster (BBL) dilarang diekspor ke luar negeri.

"Terkait BBL ini untuk sekarang tidak boleh dilaksanakan ekspor, itu atensi dari Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan terkait dengan kelestarian sumber daya alam kita. Oleh karena itu dengan kerja sama dengan Polres dan mitra yang ada di bandara, sehingga kita bisa menggagalkan khususnya di bandara ini kedua kalinya setelah ini," kata Habrin.

Larangan ekspor BBL ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

"Dari situ dasarnya tidak dilaporkan dan tidak memiliki e-sertifikat. Jadi itu terkait dengan ancamannya digabung menjadi 6 tahun, denda Rp 3 miliar," katanya.

Terkait sebelumnya para pelaku telah meloloskan 7 kali pengiriman lobster ke Singapura, Habrin menyebut pelaku memanfaatkan situasi pandemi COVID-19.

"Jadi modusnya memang di penyelundupan ini karena memanfaatkan kondisi sekarang ini adalah kondisi COVID. Petugas kami kan juga tidak mampu meng-cover seluruh yang ada baik di gudang, sehingga kami bermitra dengan Polres," ujarnya.

(mea/mea)