Wakil Ketua MPR Ingatkan Dampak dari Pembelajaran Jarak Jauh

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 12:30 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menyebutkan partisipasi pendidikan di Indonesia ini masih rendah. Ia mengakui sudah ada peningkatan, namun masih meninggalkan permasalahan. Wanita yang akrab dipanggil Rerie itu mengungkapkan dunia pendidikan juga belum memaksimalkan pentingnya dan pemahaman tentang pendidikan dan kebudayaan.

Hal itu ia ungkapkan dalam acara 'Diskusi Empat Pilar MPR' yang digelar di Media Centre, Gedung Nusantara I, Senayan Senin (3/5) dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional. Acara ini sekaligus memberi penghormatan kepada Ki Hajar Dewantara, selaku Bapak Pendidikan Nasional.

Ia juga mengatakan permasalahan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) terutama masalah jaringan internet. Soal jangkauan internet ini, kata Rerie, terjadi di daerah pelosok.

"Kalau di kota-kota besar, akses internet mudah, nah masalahnya bila sekolah berada di daerah pelosok", ungkap Rerie dalam keterangannya, Selasa (4/5/2021).

Rerie mengatakan pandemi juga membuat sekitar 60 juta siswa harus belajar di rumah. Namun sayangnya tak semua siswa bisa belajar lewat PJJ secara ideal. Ia khawatir akan ada masalah baru yang disebutnya 'learning lost'. Akibat lama tak pergi ke sekolah, akan ada dampak kesehatan mental yang menimpa para siswa.

"Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah", tegasnya.

Ia juga mengatakan dalam masa pandemi pemerintah belum bisa menerapkan ekosistem pembelajaran yang ideal. "Masih banyak warga yang belum memperoleh kesempatan belajar," ujarnya.

Timbulnya 'learning lost' juga diakui oleh Anggota MPR Fraksi PKB, Syaiful Huda, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi itu. Syaiful mengutip beberapa survei yang menyebutkan PJJ berjalan secara efektif.

Namun, hal tersebut berbanding terbalik saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah dan berdialog dengan kepala sekolah. Dari kunjungan itu ia mengungkapkan efektivitas PJJ hanya 30 persen.

"Rendahnya efektivitas PJJ kita maklumi sebab pendidik dan siswa masih beradaptasi dengan teknologi", ungkap Syaiful.

Ia berharap Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim agar memanfaatkan kondisi yang ada menjadi momentum untuk bangkit.

"Misalnya dengan menerapkan pendidikan yang berbasis pada media digital", jelasnya.

Terkait 'learning lost', pengamat pendidikan Indra Charismiadji menyebutkan dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah mengalami 'learning lost' sejak 20 tahun yang lalu. Dirinya menggunakan data-data dari media dan data asing.

"Contohnya kemampuan matematika siswa di Indonesia rendah", ungkap Indra.

Indra mengatakan seharusnya pendidikan di negara ini sudah harus berbasis pada digital.

"Karena arah pendidikan masa depan ke sana", pungkas dia.

(prf/ega)