Kasus Pembunuhan Racun di RI: Jessica Wongso hingga Sate Beracun

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 13:36 WIB
poison 2
Ilustrasi racun sianida (Thinkstock)

Pada 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, memasukkan racun arsenik ke dalam mie goreng Munir karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut.

Namun, hingga saat ini, siapa dalang di balik pembunuhan Munir belum juga terungkap.

4. Rencana Pembunuhan di Kelapa Gading

Pada 2019, rencana pembunuhan menggunakan racun sianida juga terjadi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Seorang perempuan berinisial YL dan laki-laki selingkuhannya berinisial BHS berniat menghabisi sang suami, VT, dengan cara meracuninya menggunakan cairan sianida.

Namun rencana tersebut kemudian urung dilakukan lantaran YL tidak berani mengeksekusi suaminya. Akhirnya, YL dan BHS pun menyewa dua pembunuh bayaran berinisial HER dan BK.

Sesuai dengan perencanaan, eksekusi terhadap VT dilakukan 13 September lalu di dalam mobil. Akan tetapi aksinya gagal. VT berhasil melepaskan diri dan mengemudikan mobilnya menjauhi TKP meskipun sudah ada tiga luka tusukan.

5. Kasus Takjil Sate Beracun

Terbaru, kasus pembunuhan menggunakan racun sianida terjadi di Bantul. Racun mematikan itu dicampur dengan takjil sate lontong.

Kasus itu bermula saat seorang driver ojek online (ojol), Bandiman (47), tengah beristirahat di samping sebuah masjid di Jalan Gayam, Kota Yogyakarta, tepatnya seberang kantor Radio Geronimo, Minggu (25/4).

Ketika beristirahat, tiba-tiba Bandiman didatangi seorang wanita yang memintanya mengirimkan paket takjil ke Vila Bukit Asri di Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Bantul.

Bandiman akhirnya menerima permintaan wanita tersebut. Keduanya lalu menyepakati tarif yang harus dibayar wanita itu untuk mengantarkan takjil tersebut. Tak menaruh curiga, Bandiman langsung berangkat menuju alamat penerima paket.

Paket takjil itu pun dia serahkan kepada orang yang berada di rumah Tommy. Namun paket itu ditolak karena pihak penerima merasa tidak kenal dengan pengirim takjil. Paket takjil itu pun lalu diberikan kepada Bandiman.

Dia lalu pulang ke rumah dan sampai rumah pukul 17.15 WIB. Bertepatan pula saat itu anak keduanya, Naba, baru saja pulang dari TPA dan membawa takjil berupa gudeg. Tapi, karena dia tidak terlalu suka gudeg, sehingga Bandiman menawarkan sate lontong yang didapatnya.

"Terus saya kasih satenya saja, saya minta 2 langsung saya makan dan anak (sulung) saya juga makan 2 tidak apa-apa. Istri saya motong lontong dan dikasih bumbu sate disuapin ke anak saya, nah saat itu anak saya bilangnya pahit, panas, dan lari ke kulkas minum (air es)," katanya.

"Terus lari ke dapur jatuh dengan posisi telungkup, nah istri saya muntah-muntah dan langsung saya larikan ke Wirosaban. Saat perjalanan itu sudah keluar buih-buih itu, kaya liur itu," imbuhnya.

Nahas, setiba di rumah sakit, nyawa Naba tidak terselamatkan. Belakangan terungkap bahwa racun yang menewaskan Naba merupakan racun sianida.


(mae/tor)