Wamenag Bicara Bahaya Belajar Agama yang Keliru hingga Peran Pesantren

Herianto Batubara - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 15:55 WIB
Wamenag Zainut Tauhid Saadi di acara Wisuda SMP dan SMA Pesantren Modern Internasional Dea Malela di Sumbawa
Wamenag Zainut Tauhid (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi mengapresiasi tumbuhnya semangat masyarakat untuk belajar agama dalam beberapa tahun terakhir. Namun dia berharap semangat itu tidak hanya berbasis pembelajaran melalui internet dan media sosial yang sulit dipastikan kesesuaian metode pembelajaran, sanad keilmuan, dan kapasitas pengajar agamanya.

"Pendidikan model pesantren dapat menjadi jawaban atas meningkatnya semangat masyarakat untuk belajar agama saat ini," kata Zainut dalam rilis kepada wartawan, Minggu (2/5/2021).

Pernyataan tersebut disampaikan Zainut saat memberi sambutan pada Wisuda SMP dan SMA Pesantren Modern Internasional Dea Malela di Sumbawa, Sabtu (1/4). Hadir, Pengasuh Pesantren Moderen Internasional Dea Malela, Prof Din Syamsuddin, Bupati Sumbawa, serta para santriwan-santriwati yang diwisuda.

Menurut Wamenag, pembelajaran agama yang keliru terbukti berpengaruh pada munculnya eksklusivisme beragama dan intoleransi, yang berpotensi konflik di tengah masyarakat. Ini juga pada akhirnya bisa mengancam kesatuan bangsa dan nilai-nilai kemanusiaan.

Wamenag Zainut Tauhid Saadi di acara Wisuda SMP dan SMA Pesantren Modern Internasional Dea Malela di SumbawaWamenag Zainut Tauhid Saadi di acara Wisuda SMP dan SMA Pesantren Modern Internasional Dea Malela di Sumbawa Foto: Dok Istimewa

Zainut lantas berbicara soal pentingnya pesantren. Pesantren, sebagai institusi pendidikan warisan para ulama, menurutnya, terbukti telah berhasil melahirkan banyak individu unggul di berbagai bidang, yang memahami dan mengamalkan nilai ajaran Islam dengan tetap mengedepankan ilmu dan akhlak, berjiwa mandiri, seimbang, dan moderat.

Bahkan, lanjut Zainut, jauh sebelum kemerdekaan, masyarakat pesantren telah berkontribusi dalam bidang dakwah, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

"Lewat perjuangan dan kepemimpinan para ulama, pesantren mampu memberikan kontribusi besar dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelasnya.

"Capaian keberhasilan pesantren dalam kontribusi positif kepada bangsa dan negara sangat penting untuk terus dipertahankan. Termasuk tugas pesantren yang tidak kalah penting adalah menjaga dan mengawal moral, akhlak bangsa, dan menebarkan pemahaman beragama yang toleran (tasamuh), moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), adil dan berkemajuan," lanjutnya.

Wamenag yakin bahwa pesantren adalah tonggak utama dalam mengawal moderasi beragama. Moderasi beragama sesungguhnya menjadi solusi antara dua ekstremitas beragama, yaitu ekstremitas ultrakonservatif dan ekstremitas liberal.

Pada kesempatan yang sama, Wamenag mengucapkan selamat kepada para santri yang diwisuda dan berharap mereka mendapat ilmu yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat luas.

Pesan senada disampaikan pengasuh pesantren, Prof Din Syamsuddin. Dia mengingatkan para santri untuk memegang teguh ikrar. Para santri juga harus terus menebarkan ajaran Islam sebagai agama rahmat din ar-rahmah untuk sekalian alam.

Pesan lainnya, para santri bisa menjadi bagian dari ummatan wasathan, umat yang tengahan, adil, dan pilihan, agar menjadi saksi atas perbuatan manusia. Kepada para pengurus, Din berharap Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela bisa menjadi lembaga pendidikan berkeunggulan di tingkat global dalam melahirkan sumber daya insani beriman yang mandiri, kreatif, inovatif, dan kompetitif.

(hri/knv)