Round-Up

Hattrick Ultah Sri Wahyumi: Dari OTT lalu Dibui hingga Tersangka Lagi

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 01 Mei 2021 07:21 WIB
Bupati nonaktif Kepulauan Talaud Sri Wahyumi diperiksa KPK. Tak sendiri, pengusaha yang juga penyuap Bupati Talaud Bernard Hanafi Kalalo turut diperiksa KPK.
Sri Wahyumi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Seolah-olah, mantan Bupati Kepulauan Talaud, Sri Wahyumi Maria Manalip, mencetak hattrick atau mencetak rekor tiga kali berturut-turut. Bukan gol yang dia cetak, melainkan penindakan hukum yang dia terima.

Sri Wahyumi bertanggal lahir 8 Mei 1977. Hattrick peristiwa hukum yang melingkupinya terjadi di sekitar hari ulang tahunnya.

Berikut adalah hattrick ultah Sri Wahyumi:

1. Kena OTT KPK

Akhir 30 April 2019, Sri Wahyumi terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK. OTT ini terjadi sepekan sebelum dia berulang tahun ke-42. Usianya bertambah dengan status tersangka.

Sri Wahyumi dijaring KPK karena menerima suap dari pengusaha. Si pengusaha bernama Bernard Hanafi Kalalo menyuap Sri agar mendapatkan jatah penggarapan proyek di Talaud. Ada perantara yang merupakan tim sukses Sri, namanya Benhur Lalenoh.

Sri Wahyumi dinyatakan menerima barang mewah dari Bernard senilai total Rp 491 juta. Ada telepon satelit, tas mewah Balenciaga dan Chanel, jam Rolex, dan perhiasan puluhan juta.

Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) tiba di KPK, Jakarta, Selasa (30/4/2019).Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) tiba di KPK, Jakarta, Selasa (30/4/2019). Foto: Pradita Utama

2. Dibui

9 Desember 2019, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman 4 tahun 6 bulan penjara kepada Sri Wahyuni. Sri Wahyumi dan Benhur Lalenoh bersalah melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 dan Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Belakangan, dia mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dan MA mengabulkan. Dia dijatuhi pidana 2 tahun dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan.

Kemudian dia menjalani hukuman bui dua tahun (setelah MA mengabulkan peninjauan kembali). Hukuman itu diterimanya sebagai terpidana kasus suap terkait proyek di Talaud. 8 Mei 2020, dia berulang tahun ke-43, menjadi ulang tahun keduanya dengan status tersangka yang dia tanggung.

Simak video 'Balada Eks Bupati Sri Wahyumi, Bebas dari Bui-Diciduk KPK Lagi':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya, tersangka lagi:

Selanjutnya
Halaman
1 2