Kontroversi yang Dilakukan Nabi dan Sahabat (11)

Membantu Pembangunan Rumah Ibadah Agama Lain

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 30 Apr 2021 04:57 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Suatu hal yang menakjubkan dari Nabi Muhammad Saw ialah menganjurkan untuk membantu pembangunan dan rehabilitasi rumah-rumah ibadah agama lain. Beberapa keprihatinan yang dilakukan Nabi terhadap keterlantaran rumah-rumah ibadah agama lain, di antaranya ialah anjuran Nabi untuk membantu perbaikan rumah ibadah non-muslim seperti yang tertera dari surat Nabi Muhammad Saw kepada kaum Kristen Najran sebagaimana dikatakan: "Bila mereka membutuhkan bantuan dalam memperbaiki rumah ibadah mereka atau apa saja yang berkaitan dengan urusan agamanya, mereka bisa dibantu dan hal tersebut termasuk pengukuhan bagi mereka yang dapat mendukung masalah untuk agama mereka. Itu dianggap sebagai komitmen untuk memenuhi janji Nabi yang telah diberikan kepada mereka, dan juga pemberian Allah kepada mereka".

Surat Nabi ini luar biasa. Selain memberikan gambaran kearifan Nabi terhadap umat non-muslim juga secara implisit Nabi tidak pernah merasa terancam dengan kehadiran rumah-rumah agama umat lain. Itulah sebabnya Nabi selalu menginstruksikan agar rumah-rumah ibadah jangan disamakan dengan bangunan-bangunan lain. Mungkin yang lain dapat dengan mudah dibongkar atau dapat diruntuhkan tetapi rumah ibadah harus hati-hati. Rumah ibadah mewakili suasana batin para pemeluk agama itu dan jika batin yang disinggung maka itu bentuk penderitaan paling mendalam.

Setiap kali prajuritnya menuju ke medan perang selalu Nabi menegaskan untuk tidak melakukan lima hal hal, yaitu jangan mengganggu kaum perempuan, jangan mengganggu anak-anak dan orang-orang tua bangka, jangan merusak rumah-rumah ibadah, dan jangan merusak pohon dan tanaman penduduk. Larangan-larangan tersebut sungguh sangat manusiawi. Kaum perempuan yang dianggap lemah dan memiliki status social yang sering termarginalkan diberikan instruksi pertama untuk tidak mengganggu kaum perempuan di dalam medang jihad. Kaum perempuan sesungguhnya adalah ibu yang melahirkan kita. Boleh jadi itu anak dan saudara kita. Dengan melakukan pendhaliman dan kekasaran terhadap mereka apa bedanya jika perlakukan itu ditujukan kepada keluarga dekat kita. Sama dengan anak-anak dan orang tua lemah, sangat tidak adil mendekatinya dengan pendekatan militer. Tawanan perang Badar di Madinah tidak dijemur di bawah terik matahari tetapi diikat di masjid sambal diminta mengajarkan keterampilan kepada warga masyarakat Madinah sesuai dengan bakat keterampilan masing-masing. Ujungnya adalah pembebasan dan kemerdekaan bagi mereka yang yang secara nyata memberikan keuntungan nyata kepada masyarakat.

Larangan merusak rumah-rumah ibadah agama lain sungguh sangat mengesankan. Tradisi ini terus dipertahankan hingga saat ini. Gereja-gereja tua berdiri di mana-mana di setiap negara muslim. Bahkan anggaran perawatannya diberikan dari kas negara yang notabene umumnya dipungut dari umat Islam melalui pundi-pundi amalnya seperti jizyah, hibah, hibah, dan pemasukan lain yang tidak ditentukan penggunaannya secara khusus oleh Al-Qur'an dan hadis, seperti zakat dan waqaf. Para sahabat (Khulafa' al-Rasyidun) memberi kesempatan umat beragama lain beribadah di rumah ibadah mereka masing-masing. Jika ada rumah ibadah yang roboh dan menyebabkan warganya terlunta-lunta di dalam menjalankan ibadahnya, maka umat Islam diminta untuk turun tangan membantu saudaranyaa, yang penting tidak diambil dari Zakat dan Waqaf, karena itu peruntukannya sudah jelas.

Agak ironis sebenarnya peristiwa yang sering terjadi di dalam sejarah. Antara penganut agama Yahudi dan agama Kristen pernah terjadi bunuh-bunuhan yang sangat mengerikan. Hal yang sama juga pernah terjadi antara penganut agama Kristen dan agama Islam yang diabadikan dengan nama Perang Salib. Padahal ketiga kelompok agama ini sesungguhnya berasal dari satu nenek, yaitu Nabi Ibrahim. Ketiga kelompok agama ini sering disebut sebagai Abrahamic Religion atau Semitic Religion, yang basicnya sama-sama sebagai agama monoteisme. Jika saja ketiga agama ini berdamai secara monumental maka separuh ketegangan dunia berakhir.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta


Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis

(erd/erd)