TB Hasanuddin Duga Retrofit KRI Nanggala-402 di Korsel Gagal

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 25 Apr 2021 13:53 WIB
Cagub Jabar TB Hasanuddin menjalani syuting Blak-blakan DCandidate detikcom di Jakarta
TB Hasanuddin (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin mengungkapkan rasa prihatin atas tenggelamnya KRI Nanggala-402. Purnawirawan TNI itu menduga KRI Nanggala-402 mengalami kegagalan retrofit.

Untuk diketahui, KRI Nanggala-402 pernah diretrofit. Sebagai informasi, retrofit merupakan kegiatan penguatan struktur, penambahan komponen, hingga peningkatan kemampuan.

"Kami mengucapkan rasa prihatin dan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas tenggelamnya KRI Nanggala 402 yang menyebabkan gugurnya 53 orang syuhada TNI ," kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis, Minggu (25/4/2021).

Politikus PDIP itu mengungkapkan, yang terbaru, KRI Nanggala-402 diretrofit di Korea Selatan selama 2 tahun yang selesai pada 2012.

Kala itu, menurut Hasanuddin, anggaran sekitar USD 75 juta atau sekitar Rp 1,05 triliun dihabiskan untuk melakukan perbaikan penuh dan pemutakhiran teknologi pada KRI Nanggala-402.

"Retrofit itu bukan sekadar mengganti suku cadang, tapi diperkirakan juga ada perubahan konstruksi dari kapal selam tersebut terutama pada sistem senjata torpedonya," tuturnya.

Namun, kata Hasanuddin, di tahun yang sama, KRI Nanggala-402 melakukan uji penembakan tetapi gagal lantaran torpedonya tak bisa diluncurkan karena sistem penutupnya bermasalah. Dalam peristiwa itu, 3 prajurit terbaik gugur.

Kemudian, lanjutnya, kapal selam buatan Jerman tahun 1978 itu lantas diperbaiki lagi oleh tim dari Korea Selatan.

"Saya menduga pada hasil perbaikan ini ada hal-hal atau konstruksi yang tidak tepat sehingga KRI Nanggala-402 tenggelam. Ini sangat disayangkan," kata Hasanuddin.

Karena itu, Hasanuddin pun meminta agar kapal selam sejenis, yakni KRI Cakra 401, sebaiknya di-grounded. Sebab, dia enggan ada korban prajurit lain lagi ke depannya.

"Jangan ada lagi korban prajurit," tegasnya.

Selain itu, Hasanuddin menyoroti jumlah kru KRI Nanggala-402 yang melebihi kapasitas. Menurutnya, jumlah kru maksimal kapal selam itu semestinya hanya 38 orang.

"Pada saat hilang kontak KRI Nanggala-402 itu membawa 53 awak, artinya kelebihan beban 15 orang. Ada apa kok dipaksakan? Saya juga mendapat informasi bahwa saat menyelam KRI Nanggala 402 diduga tak membawa oxygen gel, tapi tetap diperintah untuk berlayar," ujar Hasanuddin.

KRI Nanggala-402 Siap Tempur

Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono mengungkap kondisi Kapal KRI Nanggala-402. Yudo menegaskan kapal selam yang hilang itu masih layak tempur.

Laksamana Yudo mengungkap kapal KRI Nanggala-402 itu dalam keadaan siap dari segi personel maupun material sudah mendapatkan surat kelaikan. Selanjutnya kapal ini juga memiliki riwayat latihan menembak beberapa kali dan dalam kondisi siap tempur.

"Jadi KRI Nanggala ini saya tambahkan dibuat tahun 1977 dan diterima angkatan laut delivery tahun 1981 buatan Jerman. Kemudian kapal ini juga sudah riwayatnya menembak torpedo kepala latihan ini 15 kali dan menembak torpedo kepala perang itu 2 kali dan sasarannya kapal eks KRI dan dua-duanya tenggelam," kata Laksamana Yudo dalam jumpa pers di Lanud Gusti Ngurah Rai Bali, Kamis (22/4/2021).

"Jadi KRI Nanggala ini dalam kondisi siap tempur sehingga kita kirim untuk lakukan penembakan torpedo kepala latihan maupun kepala perang," ungkapnya.

Yudo mengatakan, KRI Nanggala juga rutin dilakukan perawatan. Menurutnya, KRI Nanggala-402 masih sangat layak.

"Kalau usia operasi kita sesuaikan, kalau kondisinya masih bagus dan bisa kita rawat dan tentunya akan kita rawat dengan baik. Tentunya di angkatan laut untuk perawatan kapal ini ada fase-fasenya. Jadi ada tahap-tahapannya dan kapal ini juga sudah di-docking terakhir Januari 2020, docking terakhir di PT PAL sehingga masih sangat layak," ujarnya.

Simak juga 'Sampaikan Duka, Jokowi Pastikan Pencarian KRI Nanggala Lanjut':

[Gambas:Video 20detik]



(mae/imk)