Radhar Panca Dahana Berpulang, Ini Sosok dan Kiprahnya

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 11:08 WIB
Jakarta -

Sastrawan serta budayawan Radhar Panca Dahana dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (22/4/2021) pukul 20.00 WIB. Pria yang juga menulis sejumlah buku ini meninggal di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

"Telah berpulang malam ini pukul 20.00 adik saya tercinta Radhar Panca Dahana di UGD RS Cipto Mangunkusumo. Mohon maaf atas semua kesalahan dan dosanya. Mohon doa agar ia mendapat tempat yang terbaik di sisiNya. Aaminn YRA," tulis kakak Radhar Panca Dahana, Radhar Tribaskoro, melalui akun Facebook-nya. detikcom sudah meminta izin untuk mengutip.

Berikut profil dan kiprahnya di dunia seni Indonesia

Profil

Melansir dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Radhar Panca Dahana dikenal sebagai esais, jurnalis, kritikus sastra dan sastrawan.

Nama Radhar sendiri sebenarnya adalah nama akronim dari kedua orang tuanya, yakni Radsomo dan Suharti. Anak kelima dari tujuh bersaudara itu semua memiliki nama depan Radhar.

Radhar Panca Dahana tumbuh dengan ketertarikan dengan dunia teater dan karang-mengarang.

Pada akhir 1970-an, ia mengawali kiprahnya sebagai jurnalis. Ia juga menulis di berbagai majalah di Jakarta, seperti Pesona, Anita, Gadis, Nona, dan Hai, bahkan, majalah dewasa, seperti Keluarga, Pertiwi, dan Kartini.

Radhar Panca Dahana juga sempat bekerja di harian Kompas sebagai pembantu reporter atau reporter lepas. Ia menulis untuk berbagai rubrik, seperti di olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kota tentang kriminalitas, dan hukum.

Bakat Menulis

Sejak kecil,Radhar Panca Dahana dianugerahi bakat menulis. Saat SD kelas 5, ia sudah menulis cerita pendek berjudul 'Tamu Tak Diundang' yang dimuat di harian Kompas. Saat kelas 2 SMP, ia menjadi redaktur tamu majalah kawanku. Ia mulai mengarang cerita pendek, puisi, dan membuat ilustrasi ketika duduk di kelas tiga SMP. Beberapa karyanya dimuat di majalah Zaman.

Saat SMA, ia juga sempat bergabung dengan Bengkel Teater Rendra namun berselisih karena masalah manajemen grup dan kemudian mengundurkan diri.

Kecerdasan Radhar Panca Dahana mengantarkannya diterima sebagai mahasiswa di jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia dengan menyelesaikan mata kuliah hanya dalam waktu 2,5 tahun.

Tahun 1997, Radhar melanjutkan studi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Prancis dan melakukan riset tentang postmodernisme di Indonesia. Selang setahun kemudian, Radhar Panca Dahana memutuskan kembali ke Indonesia dan batal melanjutkan studi doktoralnya.

"Aku tak kuat menahan diri. Sementara aku hidup enak di sini, di negeriku orang-orang hidup dalam teror." tutur Radhar menjelaskan alasan kembalinya. Saat itu Indonesia memang sedang dilanda kekacauan usai Presiden Suharto digulingkan.

Radhar Panca Dahana mengalami stres berat. Ia divonis gagal ginjal kronis, acute renal failure dan cjronic renal failure, pembunuhan sel ginjal secara perlahan. Dua buah ginjalnya dinyatakan sudah mati.

Karir dan Karya

Radhar Panca Dahana diketahui mengelola rubrik 'Teroka' di harian Kompas, memimpin Federasi Teater Indonesia, Bale Sastra Kecapi, mendirikan Teater Kosong dan mengajar di Universitas Indonesia.

Pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965 ini juga terjun di dunia teater sebagai pekerja dan pengamat.Beberapa buku, kumpulan puisi, naskah drama, esai, hingga kritik tentang teater juga dibuat.

Berikut karya-karya Radhar Panca Dahana:

Buku

1. Homo Theatricus
2. Menjadi Manusia Indonesia (esai humaniora, 2002)
3. Jejak Posmodernisme (2004)
4. Inikah Kita; Mozaik Manusia Indonesia (esai humaniora, 2006)
5. Dalam Sebotol Coklat Cair (esai sastra, 2007)

Kumpulan puisi:
1. Simponi Duapuluh (1988)
2. Lalu Waktu (2003)

Kumpulan cerpen:
1. Masa Depan Kesunyian (1995)
2. Ganjar dan Si Lengli (1994)
3. Cerita-Cerita dari Negeri Asap (kumpulan cerpen, 2005)

Kumpulan drama:
1. Metamorfosa Kosong (kumpulan drama, 2007)
2. Memimpin kelompok Teater Aquilla, Telaga, dan Teater Kosong

Penghargaan:
1. Radhar Panca Dahana terpilih sebagai satu di antara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK (1996).
2. Paramadina Award (2005)
3. Duta Terbaik Pusaka Bangsa dan Duta Lingkungan Hidup (sejak 2004).
4. Penerima Medali Frix de le Francophonie 2007 dari lima belas negara berbahasa Prancis.

(izt/imk)