KPCPEN: Kalau Kesehatan Tidak Terlindungi, Bagaimana Bicara Ekonomi?

Abu Ubaidillah - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 17:07 WIB
Manajemen Respons Penanganan Covid 19
Foto: detikcom
Jakarta -

Saat ini India tengah mengalami lonjakan kasus COVID-19. Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Raden Pardede menjelaskan pemerintah tidak ingin hal tersebut terjadi di Indonesia.

Berbagai kebijakan tidak populis yang diambil pemerintah, termasuk memperpanjang PPKM Mikro dan melarang mudik semata-mata untuk melindungi kesehatan masyarakat. Jangan sampai mudik menyebabkan gelombang kasus baru COVID-19.

"Ini adalah dalam rangka melindungi kesehatan yang utama. Kalau kesehatan kita tidak terlindungi, bagaimana kita bicara ekonomi? Jadi kesehatan yang terlindungi tadi itu yang membangkitkan optimisme," kata Raden dalam keterangan tertulis, Kamis (22/4/2021).

Upaya lain yang dilakukan untuk menjaga kesehatan adalah melalui program vaksinasi. Raden mengatakan 11,1 juta orang atau 27,6% masyarakat telah menerima vaksin COVID-19 untuk dosis pertama. Sementara untuk dosis kedua, jumlah penerimanya adalah 6,1 juta orang atau 15,2% dari total keseluruhan penerima vaksinasi. Menurutnya jika target vaksinasi bisa optimal dan penyebaran COVID-19 bisa dikendalikan, akan mendorong optimisme ekonomi.

"Dengan cara seperti itu kita harapkan pemulihan ekonomi kita akan baik, karena antara optimisme kemudian mereka mau berbelanja, mereka mau berinvestasi, itulah yang menggerakkan ekonomi," ujarnya.

Ia menjelaskan pemerintah akan melonggarkan kegiatan masyarakat ketika kasus COVID-19 sudah bisa terkendali. Saat ini pun program vaksinasi juga dipercepat, hingga 20 April 2021 total masyarakat yang sudah menerima vaksin sebanyak 17,25 juta orang.

Managing Director IPSOS in Indonesia, Soeprapto Tan mengatakan optimisme masyarakat Indonesia akan ekonomi yang segera membaik mencapai 76%. Karena itu Indonesia mesti menjaga agar jangan sampai yang terjadi di negara lain juga terjadi di Indonesia.

Pada Mei 2020, ia mengatakan belanja masyarakat hanya untuk bahan masakan yang dibuat di rumah, obat-obatan pribadi, dan produk kebersihan, lalu di September 2020 juga masih cenderung sama. Menurutnya dengan optimisme yang mulai meningkat, belanja masyarakat juga mulai merambah ke travel atau jalan-jalan. Begitu juga restoran dan kafe juga presentasi negatifnya juga semakin kecil yang menandakan masyarakat tidak berdiam diri di rumah.

(prf/ega)