Sidang MK, Pemohon Legalitas Ganja untuk Kesehatan Beri Contoh Australia-AS

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 14:17 WIB
Ilustrasi sidang MK
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Dwi Pertiwi dkk meminta legalitas ganja untuk kesehatan dengan mengajukan judicial review UU Narkotika ke Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka melakukan perbaikan permohonan dalam sidang guna meyakinkan para hakim konstitusi. Salah satu perbaikannya adalah mengajukan beberapa kasus baru soal manfaat ganja untuk kesehatan.

"Tahun 2016 ada seorang anak laki-laki di Ontorio, Kanada, yang menderita Lennox-Gastaut Syndrome ini bagian dari cerebral palsy juga diberikan terapi ganja," kata kuasa hukum pemohon, Erasmus Napitupulu, yang dikutip dari risalah sidang, Rabu (21/4/2021).

Lalu, pada 2017, Mark Zartler memvideokan anaknya yang menderita cerebral palsy. Lalu diberi pengobatan dupa.

"Pengobatan yang sama juga yang diberikan Pemohon I, Prinsipal Pemohon I di Australia pada anaknya, dan pada saat di video itu kejang-kejang berhenti. Dan itu mengakibatkan di tahun 2017-2018 negara bagian Texas di Amerika Serikat mengubah perundang-undangannya, di pengadilan sana juga berubah ketentuan di undang-undang negara bagian Texas untuk memperbolehkan narkotika golongan 1, yaitu ganja dipakai secara terbatas untuk kebutuhan medis," ujar Erasmus.

Pada 2018, US Foods and Drugs Administration (BPOM-nya Amerika) memasukkan pengendalian obat epidiolex atau cannabidiol (CBD) bagian dari unsur ganja sebagai bagian obat terhadap penggunaan Syndrome Lennox-Gastaut atau Syndrome Dravet.

"Lalu kemudian, kami juga melampirkan beberapa kasus dan pengobatan-pengobatan yang sudah ada untuk pengobatan cerebral palsy menggunakan narkotika golongan 1 jenis ganja," papar Erasmus.

Pemohon juga menyertakan kasus Fidelis Arie Sudewarto, warga Sanggau, Kalimantan Barat. Fidelis memberikan pengobatan ganja juga kepada kepada istrinya yang menderita syringomyelia, sebuah penyakit yang sangat jarang.

"Lalu kemudian karena tidak ada pengobatan narkotika golongan 1 jenis ganja di Indonesia, maka yang bersangkutan dipidana penjara," beber Erasmus.

Ketua majelis panel, Suhartoyo, menyatakan akan membawa permohonan itu ke Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH). Apakah permohonan itu layak dinaikkan ke sidang pleno atau dicukupkan di sidang pendahuluan.

"Untuk selanjutnya akan dilakukan pembahasan bagaimana relevansi perkara ini. Apakah perlu kemudian dicermati, ditingkatkan dalam sidang pembuktian, ataukah cukup sampai di sini, dan kemudian bisa diambil sikap oleh Mahkamah dengan mengambil keputusan," kata Suhartoyo.

Sebagaimana diketahui, Dwi Pratiwi, Santi Warastuti, dan Nafiah Murhayati meminta MK melegalkan ganja kesehatan. Dwi merupakan ibu dari anak yang menderita cerebral palsy, yakni lumpuh otak yang disebabkan oleh perkembangan otak yang tidak normal. Sedangkan Santi dan Nafiah merupakan ibu yang anaknya epilepsi.

Simak juga 'Pemerintahan Biden Dukung Legalisasi Ganja Untuk Obat-obatan':

[Gambas:Video 20detik]

(asp/fjp)