Spotlight

Jalan Tengah Vaksin Nusantara di Tengah Kontroversi

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 19:06 WIB
Momen Aburizal Bakrie Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan (Foto: dok Istimewa)
Momen Aburizal Bakrie Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan (Foto: dok Istimewa)
Jakarta -

Usai menuai kontroversi terkait masalah perizinan, vaksin Nusantara akhirnya menemukan jalan tengahnya. Kendati demikian, tahapan vaksin Nusantara agar bisa digunakan secara luas masih panjang.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito meneken nota kesepahaman (MoU) terkait penelitian vaksin Nusantara.

MoU tentang 'Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2' ini diteken pada Senin (19/4/2021).

Penandatanganan MoU ini disaksikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhajir Effendy.

Menanggapi kelanjutan vaksin Nusantara, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban melihat hal ini sebagai jalan tengah.

"Ini kelihatannya merupakan jalan tengah dari vaksin yang kontroversial ini. Sebetulnya di AS uji klinik fase 1 dan fase 2 juga baru dimulai bulan Juni tahun ini. Dan fase 2 itu baru selesai Juni tahun depan," kata Prof Zubairi saat dihubungi, Selasa (20/1).

"Uji klinik sel dendritik fase 2 itu baru itu akan selesai Juni tahun depan. Setelah itu baru fase 3. Jadi jalan masih panjang," lanjutnya.

Dia menjelaskan bahwa untuk penelitian vaksin Nusantara bisa dilakukan asal sesuai dengan kaidah penelitian. Namun, jika dimaksudkan untuk pelayanan, harus melewati fase penelitian terlebih dahulu.

"Regulasinya sekarang ada di Menteri Kesehatan sebagai pembina fasilitas kesehatan. Nah, kalau untuk penelitian terbuka sih untuk penelitian asal sesuai kaidah penelitian. Untuk pelayanan harus dibahas dulu yang untuk penelitian itu bisa untuk pelayanan," ujarnya.

Dia menilai bahwa fase saat ini merupakan fase untuk menenangkan diri usai kontroversi. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan jalan terbaik dari pengembangan vaksin Nusantara ini.

"Lebih penting kan fase cooling down, jadi menurut saya jangan dibahas dulu. Untuk mencari jalan keluar terbaik, yang masih proses ke depan. Agar bermanfaat bagi masyarakat Indonesia," ungkapnya.

Simak juga video 'TNI AD-Menkes-BPOM Sepakati Penelitian Sel Dendritik untuk Atasi Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2