Spotlight

Jalan Tengah Vaksin Nusantara di Tengah Kontroversi

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 19:06 WIB
Momen Aburizal Bakrie Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan (Foto: dok Istimewa)
Momen Aburizal Bakrie Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan (Foto: dok Istimewa)

Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menyebut penelitian itu berbeda makna dengan melanjutkan produksi vaksin Nusantara.

Andika mengatakan RSPAD Gatot Subroto akan melakukan penelitian tentang sel dendritik. Penelitian dilakukan setelah ada temuan BPOM atas kelemahan critical dan major dalam kandungan vaksin Nusantara.

"Oleh karena itu, pemerintah mencarikan solusi sehingga di sisi lain peneliti tetap harus, sambil melengkapi tadi respons yang harus diberikan ke BPOM, mereka bisa terus tetapi dengan penelitian yang berbeda. Jadi sama sekali tidak melanjutkan," ujar Andika di Mapomdam Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (20/4/2021).

"Kalau melanjutkan apakah disebut fase 2 atau fase-fase selanjutnya. Jadi berbeda, judulnya pun dipilih berbeda. Jadi penelitian kali ini penelitian berbasis pelayanan yang menggunakan sel dendritik untuk meningkatkan imunitas terhadap Sar Cov-2 atau COVID-19," sambung dia.

Menurut Andika, penelitian tidak bertujuan menciptakan vaksin seperti sebelumnya. Tetapi, katanya, ditujukan menciptakan terapi imun melawan COVID-19.

"Jadi lebih sederhana sehingga tidak juga menghasilkan vaksin seperti yang dilakukan di Rumah Sakit Karyadi. Tidak ada hubungannya dengan vaksin sehingga tidak perlu izin edar," ucap Andika.

Dia mengatakan penelitian berbasis sel dendritik menggunakan metode imunoterapi. Dia mengatakan RSPAD memiliki fasilitas tersebut.

Seperti diketahui, vaksin Nusantara menuai kontroversi karena proses vaksinasi berlanjut tanpa izin dari BPOM. Sejumlah tokoh serta beberapa anggota DPR turut menjadi relawan dengan mengambil sampel darah yang merupakan bagian dari proses vaksinasi.

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan pihaknya belum memberikan restu vaksin Nusantara untuk melanjutkan uji klinis. Penny membeberkan sejumlah alasan mengapa BPOM belum memberikan restu.

Dalam hearing atau diskusi bersama para peneliti vaksin Nusantara 16 Maret 2021, terungkap jumlah KTD dalam uji fase I mencapai 71,4 persen dari total relawan uji klinis.

Sebanyak 20 dari 28 subjek mengalami kejadian yang tidak diinginkan (KTD). Beberapa relawan uji klinis juga mengalami KTD di kategori 3 dengan tingkat keluhan efek samping lebih berat.

"Kejadian yang tidak diinginkan pada grade 3 merupakan salah satu kriteria penghentian pelaksanaan uji klinik yang tercantum pada protokol uji klinik," sebut Penny dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (14/4).

Kejadian tidak diinginkan kategori 3:

6 subjek mengalami hipernatremi
2 subjek mengalami peningkatan blood urea nitrogen (BUN)
3 subjek mengalami peningkatan kolesterol

Kejadian tidak diinginkan kategori 1 dan 2:

- Nyeri lokal
- Nyeri otot
- Nyeri sendi
- Nyeri kepala
- Penebalan
- Kemerahan
- Gatal
- Petechiae (ruam)
- Lemas
- Mual
- Demam
- Batuk
- Pilek dan gatal

Halaman

(rdp/fjp)