Perjuangan Kartini: Keinginan ke Belanda hingga Dirikan Sekolah di Rembang

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 16:19 WIB
R.A. KARTINI: OASE ILMU PENGETAHUAN
Ilustrasi (Foto: detikcom)
Jakarta -

Sosok perjuangan Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat menjadi simbol emansipasi wanita. Tepat di hari kelahiran RA Kartini, Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk apresiasi atau perjuangannya.

RA Kartini yang dikenal cerdas dan berwawasan luas ini diketahui sempat berkeinginan melanjutkan pendidikan di Belanda. Di penghujung usianya, Kartini juga mewujudkan salah satu cita-citanya yakni membangun sebuah sekolah di Rembang, atas dukungan sang suami.

Lalu bagaimana perjuangan RA Kartini dalam bidang Pendidikan?

Keinginan ke Belanda

Melansir dari buku Sisi Lain Kartini yang diterbitkan dalam rangka Pameran Temporer Sisi Lain Kartini oleh Museum Kebangkitan Nasional, Kemendikbud RI, berikut kisah perjuangan Kartini dalam bidang pendidikan.

Pahlawan Nasional Perempuan Indonesia ini memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Belanda, sebagai bentuk kemajuan berpikir dan keinginannya untuk melepaskan diri dari jeratan adat yang membatasi kaum perempuan di masa itu.

Sejak dipingit di usia 12 tahun, kemampuan bahasa Belanda RA Kartini terus terasah. Ia sering membaca dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satunya bernama Rosa Abendanon. Dari bacaan Eropa dan surat-suratnya kepada Rosa, ketertarikan Kartini untuk berpikir maju seperti perempuan Eropa timbul.

Melalui suratnya kepada Nyonya Ovink Soer, tertulis bahwa dirinya ingin mencari beasiswa ke Belanda, "Kami mau mempelopori dan memberi penerangan, karenanya kami pertama-tama harus pergi ke Belanda untuk belajar. Bagi kami baik, kalau kami pergi. Ibu tercinta, tolong usahakan kami bisa pergi"

Namun keinginan RA Kartini harus tertahan karena tidak mendapat izin dari kedua orang tuanya.

Ingin Jadi Guru

Setelah keinginan ke Belanda ditentang, Ibu Kartini mendapat kesempatan mengenyam pendidikan sebagai guru. Hal itu didukung dengan diumumkannya politik kolonial baru oleh pemerintah Belanda pada September 1901.

Dalam sidang parlemen, Ratu Wilhelmina memproklamasikan berlakunya politik etis dimana pemerintah harus menyejahterakan masyarakat Indonesia yang dijajah Belanda.

Secercah harapan muncul usai pada 8 Agustus 1900, Kabupaten Jepara dikunjungi J.H. Abendanon, yang kala itu menjabat sebagai Direktur Depertemen Pendidikan, kerajinan dan agama. Ia datang untuk menjelaskan rencana pendirian kostschool (sekolah asrama) untuk gadis-gadis bangsawan. Sayangnya hal itu ditolak oleh sebagian besar bupati dengan alasan aturan adat bangsawan yang melarang anak perempuan dididik di luar rumah.

"Selamat jalan impian hari depan yang keemasan! Sungguh, itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan". demikian isi surat Kartini kepada sahabat penanya, Stella saat mengungkapkan kekecewaannya.

Bangun Sekolah

Ibu Kartini dan Roekmini, saudaranya, memutuskan untuk membuka sekolah untuk anak-anak gadis pada Juni 1903 di pendopo Kabupaten Jepara.

Murid-murid disana diajari berbagai keterampilan, seperti membaca, menulis, menggambar, tata krama, sopan-santun, memasak, serta membuat kerajinan tangan.

(izt/imk)