Mau Jadi Polisi? Baca Dulu Buku Perjalanan Polri dari Masa ke Masa

Erika Dyah - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 22:04 WIB
Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong para generasi muda yang ingin mengabdikan dirinya menjadi polisi untuk terlebih dahulu membaca buku 'Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki. Kepolisian negara RI'. Sebab, kata Bamsoet, buku karya Komjen Pol (purn) Arif Wachjunaidi ini mengungkap latar belakang dan kisah kelahiran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Dalam pertemuannya bersama Komjen Pol (purn) Arif Wachjunaidi, Bamsoet pun mengungkap bahwa buku ini memuat perjalanan Polri dari masa ke masa. Bahkan, sejak Indonesia berada dalam pusaran perang pasifik ketika berkobarnya Perang Dunia Kedua.

"Mendalami buku tersebut, kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai awal mula kelahiran Polri, yang ternyata cikal bakalnya sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Jika dirunut, bahkan dimulai dari sejarah penyerangan pangkalan laut Amerika Serikat, Pearl Harbor, oleh Jepang pada 7 Desember 1941," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (19/4/2021).

Menurutnya, pengetahuan tentang sejarah Polri sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh seluruh personel Polri. Untuk itu Bamsoet mengatakan tidak berlebihan kiranya jika ia menilai buku ini sebagai salah satu bacaan wajib bagi siswa yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi polisi.

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan sosok Komjen Pol (purn) Arif Wachjunaidi sudah lama terkenal sebagai salah satu jenderal intelektual terbaik yang dimiliki Polri. Bamsoet menilai hal tersebut tidak mengherankan karena selama berkarier di kepolisian Arif pernah mengemban berbagai amanah jabatan.

Adapun jabatan tersebut antara lain Analisis Kebijakan Utama Bidang Kurikulum Lemdiklat Polri (2018), Sekretaris Utama Lemhanas (2016), Asrena Kapolri (2015), Asops Kapolri (2013), Kapolda Bali (2012), Sahlisospol Kapolri (2012), dan Kapolda NTB (2009).

"Berbagai buku telah ia lahirkan, antara lain 2.7 Model of Leader Character (2013), Awali dengan Senyum (2013), Blue Table Management (2013), Soft Power Penegakan Hukum di Sanolo Bolo Bima (2012), dan Menyapa dengan Budaya (2011)," jelas Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini menerangkan tidak heran jika dalam penulisan buku 'Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki. Kepolisian negara RI' termuat banyak fakta dan data yang sangat kuat. Ia pun mengungkap buku ini mengulas tiga peristiwa penting tentang kapan dan dari mana Polri lahir yakni bermula dari rangkaian sejarah dalam tiga tanggal 'keramat' antara lain 19 Agustus 1945, 21 Agustus 1945, hingga 1 Juli 1946.

"Sebagai intelektual, Komjen Pol (purn) Arif Wachjunaidi menilai tanggal 21 Agustus 1945 yang merupakan momentum proklamasi Polri sebagai Polisi Nasional, sangat layak dijadikan sebagai dasar Hari Kepolisian Nasional. Ia juga menyertakan delapan fakta sejarah sebagai penguat argumennya," terang Bamsoet.

Kendati demikian, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menyampaikan penilaian tersebut berbeda dengan keputusan pemerintah melalui Penetapan Pemerintah RI Nomor 11/SD Tahun 1946 yang ditandatangani Presiden Soekarno dan Menteri Dalam Negeri Soedarsono pada 25 Juni 1946. Diketahui, putusan tersebut menetapkan Hari Bhayangkara atau Hari Kepolisian Nasional diperingati setiap 1 Juli yang didasarkan pada peristiwa terpisahnya Polri dari Kejaksaan Agung dan Kementerian Dalam Negeri hingga menjadi jawatan tersendiri yang berada langsung di bawah Perdana Menteri.

"Perbedaan pandangan ini tidak perlu dipertentangkan. Justru sangat menarik karena bisa dijadikan sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Sehingga mengundang lebih banyak intelektual untuk menggali lebih dalam tentang kapan dan di mana jejak perjalanan Polri bermula. Dengan demikian semakin menambah kekayaan khazanah ilmu pengetahuan bangsa tentang kepolisian," pungkas Bamsoet.



Simak Video "Bambang Soesatyo Jaga Keseimbangan Otak dengan Otomotif"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)