Ketum PPP Suharso Dinilai Layak Pimpin Poros Partai Islam, PKS Mau?

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 15:40 WIB
Blak Blakan Bersama Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, Kamis (21/3/2019 

TIm blak-blakan detikcom berkesempatan melakukan wawancara dengan Ketua Umum PPP baru Suharso Monoarfa, Jakarta, Kamis (21/3/2019). Grandyos Zafna/detikcom
Foto: Ketum PPP Suharso Monoarfa (Grandyos Zafna/detik.com)
Jakarta -

Wacana pembentukan poros partai Islam menguat setelah pertemuan PPP dan PKS. Siapa sosok yang dinilai layak memimpin poros partai Islam ini?

Pakar politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin menilai wacana poros partai Islam ini harus mengajak sejumlah partai lainnya. Dengan begitu, poros ini betul-betul mewakili kelompok Islam.

"PPP dan PKS masih belum mewakili poros partai Islam. Mesti diajak partai Islam lain, seperti PBB, PAN dan PKB, termasuk partai-partai Islam baru, seperti Partai Ummat dan Partai Masyumi," kata Ujang kepada wartawan, Senin (19/4/2021).

Bila wacana ini mentok hanya di PPP dan PKS, maka Ketum PPP Suharso Monoarfa dinilai layak memimpin poros partai Islam. Namun, pertanyaannya, apakah PKS mau poros ini dipimpin Suharso?

"Jika hanya PPP dan PKS tak akan kuat, dan jika hanya kedua partai tersebut, mungkin sosok Suharso layak dipertimbangkan. Namun apakah PKS-nya mau. Ini saja harus dibicarakan dengan matang antara sesama petinggi kedua partai," ujarnya.

Suharso dinilai lebih senior di poros ini sehingga patut dipertimbangkan untuk memimpin. Tapi, Ujang mengingatkan bahwa PKS memiliki kursi di DPR yang bisa menjadi pertimbangan lain, sehingga Ahmad Syaikhu bisa memimpin poros partai Islam.

"Karena Suharso politisi senior. Namun jika melihat dari jumlah kekuatan kursi di parlemen antara PPP dan PKS, maka Syaikhu yang akan dipertimbangkan. Makanya perlu musyawarah, perlu kompromi di antara mereka," ucap Ujang.

"Dan harus ada yang mengalah demi kebaikan bersama. Jika saling ngotot, maka akan buyar itu koalisi," tegasnya.

Baca pandangan berbeda dari Hendri Satrio di halaman berikutnya.

Simak video 'PKB Masih Pikir-pikir Untuk Bergabung ke Poros Islam':

[Gambas:Video 20detik]



Pandangan berbeda datang dari pendiri lembaga survei kedaiKOPI Hendri Satrio. Pria yang akrab disapa Hensat ini menilai tak perlu ada pemimpin tunggal di poros partai Islam.

"Enggak perlu ada pemimpinnya, equal saja. Ini seperti ASEAN, semua anggota tim memiliki posisi yang sama. Jadi jawabannya atau keputusannya, keputusan kolektif kolegial, keputusan bersama," ujar Hensat.

Hensat menyarankan lebih baik poros partai Islam mendirikan sekretariat. Di dalam sekretariat itu ada sekjen yang mengatur rumah tangga poros ini.

"Mereka harus bentuk sekretariat, nanti ada sekjen-nya di sekretariat itu, tapi bukan berarti ada ketua yang harus dipatuhi, enggak, jangan. Namanya bukan poros kalau itu mah, partaisasi baru, mending kalau poros ya sama, kolektif kolegial. Kalau enggak, pecah loh, kalau ada yang tinggi dari satu yang lainnya," imbuhnya.

(rfs/zak)