DPRD Kota Surabaya Dorong Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 13:38 WIB
DPRD Kota Surabaya
Foto: DPRD Kota Surabaya
Jakarta -

Dampak pandemi Corona turut dirasakan oleh pedagang bunga hias di kawasan Kayon, Surabaya. Wakil DPRD Kota Surabaya, AH Thony mengatakan terjadi penurunan penjualan di pasar tradisional hingga 70 persen akibat pandemi COVID-19.

"Menarik dari angka yang penurunan sampai 70 persen, sementara saya korelasikan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya yang di awal tahun lalu disebut Bu Risma turun 50 persen, LPJ yang kemarin minus 4,8 sehingga menjadi 10 persen. Artinya sektor pedagang memberi kontribusi banyak," kata Thony dalam keterangan tertulis, Senin (19/4/2021).

Thony menilai sektor pedagang pasar perlu mendapatkan prioritas dalam pemulihan ekonomi. Sebab berdasarkan hasil sidak di pedagang pasar, dia mengatakan ada beberapa hal yang menjadi sorotan, yakni terkait sulitnya akses permodalan.

"Akses permodalan ini menjadi sangat penting. Oleh mereka dianggap kebutuhan sangat penting, karena sejauh ini setelah terjadi penurunan penjualan sampai pada tingkat 70 persen itu, akhirnya modal itu tergerus untuk konsumsi. Bagaimana para pedagang pasar ini bisa terkucuri dana oleh pemerintah ialah menjadi prioritas," paparnya.

Selain itu menurut Thony salah satu faktor yang menyebabkan turunnya penjualan secara drastis dari para pedagang yaitu karena masyarakat banyak yang beralih ke belanja online dari pasar di luar Surabaya.

"Supaya ini bisa membantu, maka pedagang perlu terfasilitasi dibawa kepada digitalisasi harus masuk dan harus menerima. Jadi perlu ada sistem pemasaran digital, pemasaran online, supaya menjadi perimbangan," terangnya.

Thony berpesan kepada pedagang muda yang sudah beralih ke online agar bisa menjadi pembimbing bagi pedagang yang lain menuju digitalisasi.

"Pelaku usaha yang muda, kreatif dan melek teknologi itu ada banyak. Itu nanti yang menjadi koordinator yang bisa menjadi guiding, pedagang-pedagang lain masuk pemasaran online. Kalau ini tidak dilakukan nanti akan tergerus," jelasnya.

Tidak hanya sistem online yang harus disiapkan, Thony menyebut sistem penjualan offline juga tetap dijalankan.

"Itu bagian daripada berwisata perbelanjaan, agar konsumen merasa berwisata ketika berbelanja. Kemudian tawar menawar, ini yang bagian dari tradisi pasar tradisional," ungkap AH Thony.

Selain itu, Thony juga mendorong PD Pasar Surya selaku pengelola pasar di Surabaya untuk ikut membenahi sarana dan prasarana di pasar.

"Yang kumuh-kumuh bisa di bersihkan, kemudian (pedagang) yang belum paham mendisplay (memasarkan) dagangannya, selain itu mendorong pedagang bisa ramah, walaupun dalam kondisi ekonomi kurang baik. Nah itu perlu digelorakan supaya konsumen yang hadir merasa nyaman," katanya.

Dia juga meminta agar PD Pasar Surya dapat berinovasi dalam membantu para pedagang melalui sistem online dan offline. Hal ini agar perekonomian para pedagang bisa terangkat kembali.

"Jadi inovasi PD Pasar sangat kita harapkan. Jika PD Pasar mau itu (berinovasi) kita akan support," tandas AH Thony.

Sementara itu, Bambang Supriadi salah satu pemilik toko bunga Sekarsari Florist mengaku penjualannya saat pandemi COVID-19 turun sekitar 30-70 persen. Dia pun mendukung adanya digitalisasi dalam penjualan bunga.

"Ini perlu sekali dirintis. Kapan lagi kita membiasakan diri online, dan nantinya kita mendapatkan manfaatnya sendiri," pungkasnya.

(ega/ega)