Kala Shinta Yola dan Yuni Shara Menemukan Tuhan

Citra Nur Hasanah - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 09:43 WIB
Jakarta -

Hidup menggelandang di jalanan membuat Shinta Yola tak cuma putus hubungan dengan keluarga. Dia juga mengaku nyaris tak mengenal lagi syariat agama. Beranjak remaja Shinta merasa tak lagi nyaman setiap kali datang ke masjid atau mushala. Pandangan sinis dan bisik-bisik cemoohan selalu didapatnya.

"Akhirnya saya ya udah gak salat sekalian. Yah, sekitar 30-an tahun tak pernah lagi beribadah sampai saya menemukan pesantren ini," kata Shinta Yola, 61 tahun, saat ditemui di Pesantren Waria Al-Fatah di Kotagede, Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Pondok pesantren itu berdiri di tengah perkampungan penduduk. Di sekitarnya terdapat rumah-rumah tradisional berarsitektur Jawa. Untuk menuju ke sana, orang harus melalui gang sempit.

Shinta Yola berasal dari Sumatera Utara. Dia dikucilkan oleh keluarganya yang tak dapat menerima kondisinya sebagai waria. Pelajaran salat dan ilmu keislaman kembali ditekuninya di Pesantren Waria Al-Fatah sejak 2008. Waktu itu Al-Fatah yang dipimpin oleh Maryani masih berlokasi di Notoyudan, dekat Malioboro. Ketika Maryani meninggal dunia pada 2014, kendali pesantren berpindah ke Shinta Ratri yang bermukim di Kotagede.

Berkat ketekunannya, di usia senja ini Shinta sudah bisa menderas sendiri kitab suci Al-Quran setiap usai atau sebelum salat. Sementara rekannya yang lain masih ada yang harus dibimbing mengenal huruf.

Perasaan tak nyaman untuk beribadah di musala dan masjid juga dialami Yuni Shara al Buchori. Dari mulut ke mulut dia akhirnya bergabung ke Al Fatah pada 2010 agar bisa beribadah dengan tenang. Juga kembali menimba ilmu keislaman dari para ustaz yang menjadi relawan.

"Di sini kami guyub. Saling membantu dan membimbing untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bisa aalat berjamaah tanpa ada bisik-bisik dan pandangan sinis," ujar Yuni.

Menurut Shinta Ratri, ide membentuk komunitas dalam bentuk pesantren berasal dari Kiai Hamrolie Harun, pengasuh pengajian Al Fatah di kawasan Pathuk. Selain Hamrolie ada Kiai Abdul Muhaimin, pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede. Sejak 10 tahun terakhir yang rutin membimbing para waria itu adalah ustaz Arif Nuh Safri dan Masturiah Sya'dan Arif adalah dosen Institut Ilmu Al-Quran An-Nur dan Pusat Bahasa UIN Sunan Kalijaga.

Ada satu pengalaman traumatis yang mereka alami bersama di Al-Fatah. Pada pertengahan Februari 2016, belasan orang atas nama Front Jihad Islam (FJI) menggeruduk Pondok mereka. Tudingannya, Pondok itu tengah mengembangkan Fiqih Waria, melegalkan pernikahan sejenis, dan kerap menggelar pesta miras. Karena itu FJI memaksa agar Pondok Al-Fatah ditutup selamanya.

Arif yang ditemui terpisah menepis semua tudingan. "Boro-boro mikir sampai kesitu, para waria itu bisa beribadah dengan nyaman dan diterima masyarakat saja sudah luar biasa," ujarnya.

Hingga saat ini, dia melanjutkan, kebanyakan waria adalah warga negara illegal di negeri dan kampung halamannya sendiri. Sebab hanya segelintir saja dari mereka yang memiliki KTP. √Źni tragis, ironis sekali," ujarnya.

(jat/jat)