Abdullah Hehamahua: Ngabalin Lebih 'Teroris' ketimbang Saya

Dwi Andayani - detikNews
Sabtu, 17 Apr 2021 12:09 WIB
Wakil Ketua Baleg DPR-RI Firman Subagyo, Anggota Pansel Calon Komisioner KPK Yenti Garnasih dan Mantan Penasehat KPK, Abdullah Hehamahua menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema
Abdullah Hehamahua (Lamhot Aritonang/detikcom)

Dia kemudian bercerita mengenai aktivitas masa lalunya bersama Ngabalin, yakni pada masa jelang reformasi. Saat itu, Ngabalin mengajak Abdullah bertemu Prabowo Subianto, namun tidak jadi berjumpa. Kemudian Ngabalin mengajak Abdullah ke Sri Bintang Pamungkas, fungsionaris PPP yang disebut Hehamahua paling radikal pada saat itu.

Selain itu, Abdullah juga membandingkan keislaman Ngabalin dengan Jokowi. Ini diutarakannya sebagai tambahan penjelasan atas protes terhadap analogi pertemuan TP3-Jokowi bak pertemuan Musa-Firaun. Ada pula analogi yang pernah dia dengar dari politikus PDIP bahwa Jokowi seperti Umar bin Khattab, Abdullah tidak memprotes analogi itu, padahal Jokowi dan Umar bin Khattab dinilainya berbeda, termasuk berbeda dalam hal keislaman.

"Apakah saya ada protes terhadap analogi tersebut? Tidak. Wong membandingkan keislamannya Adinda Ngabalin saja, Jokowi kalah total, apalagi dibandingkan dengan Umar ibnu Khattab. Padahal Umar itu, kata Rasulullah SAW, sangat ditakuti iblis. Bahkan beberapa saran dan idenya dibenarkan Allah SWT sehingga turun dalam bentuk wahyu yang tercantum dalam Al-Qur'an," kata Abdullah.

Sebelumnya, Ngabalin, yang merupakan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), menyebut Abdullah sebagai 'teroris' sebagai tanggapan atas sikap Abdullah yang menganalogikan pertemuan TP3 dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bak pertemuan Musa dengan Firaun.

"Kalau Musa AS setelah dewasa merantau ke Madyan, setelah 10 tahun dia kembali ke Mesir dan dengan mukjizat sebagai seorang nabi. Nah, kawan ini lari ke Malaysia, Hehamahua ini lari ke Malaysia dan pulang menjadi sosok yang menyihir anak-anak muda menjadi radikal dan ekstrem. Itu makanya Abang tulis, dia pulang ke Malaysia--dalam tanda petik--sebagai teroris," kata Ngabalin, kepada wartawan, Jumat (16/4).

Halaman

(dnu/hri)