Dinilai Hina Walkot Makassar Saat RT/RW Dinonaktifkan, Lurah Pandang Dicopot

Ibnu Munsir - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 15:46 WIB
Wali Kota Makassar Danny Pomanto (Ibnu Munsir/detikcom).
Wali Kota Makassar Danny Pomanto (Ibnu Munsir/detikcom)
Makassar -

Wali Kota Makassar Ramdhan 'Danny' Pomanto mencopot Lurah Pandang Muhammad Nawir karena dinilai telah menghinanya di media sosial. Nawir menerima putusan pencopotan dirinya dan mengaku hanya mengkritik dan membawa aspirasi RT/RW Makassar yang dinonaktifkan Danny.

Pencopotan terhadap Nawir dilakukan setelah dia diperiksa oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Makassar. Saat diperiksa, Nawir mengaku telah melakukan penghinaan kepada Danny.

"Diperiksa benar terbukti menghina dan dia mengakui. Itu terkait dengan percakapan grup WA yang mengarah ke Pak Wali, harusnya tidak layak sebagai seorang pegawai, menghina dengan kata berbohong, pembohong dan itu tidak boleh begitu," ujar Plt Sekretaris BKD Kota Makassar Munandar dalam keterangannya, Rabu (14/4/2021).

Dugaan penghinaan kepada Danny itu dilakukan Nawir di grup WhatsApp. Atas aksinya itu, BKD Makassar juga menilai Nawir telah melakukan pelanggaran pidana.

"Dia sudah minta maaf dan mengakui salahnya, jadi percakapan WhatsApp ada kata 'bohong, pembohong Wali Kota'. Itu penghinaan sebenarnya, ada unsur pidana seperti itu, itu kan mendiskreditkan begitu, tidak boleh begitu, masa ada kata kata seperti kayak begitu," ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Makassar Danny Pomanto menegaskan aksi yang dilakukan Nawir menunjukkan perlunya penataan ulang atau resetting di lingkup Pemkot Makassar. Dia menilai pemerintahan harus segera ditata ulang agar jajaran mendukung programnya.

"Jadi inilah bentuk bobroknya pemerintahan di bawah dan harus di-resetting. Bisa dibayangkan bawahannya wali kota, lurah bilang wali kotanya kayak begitu di media sosial dan dia mengakui," kata Danny saat dimintai konfirmasi.

Danny menilai pencopotan Nawir dari jabatan Lurah Pandang sudah tepat, bahkan dia memastikan ada konsekuensi hukum yang akan didapatkan oleh Nawir karena telah melakukan penghinaan.

"Ini saya bilang kenapa perlu di-resetting, karena terjadi konspirasi politik yang membuat Makassar akan mundur. Saya tidak biarkan, dan pencopotan, termasuk penghinaan dan ini bisa masuk konsekuensi hukum, dan ini sedang pertimbangkan konsekuensi hukumnya," terangnya.

Sementara itu, Nawir yang dimintai tanggapan terkait pencopotan dirinya mengaku ikhlas. Dia mengaku kritik yang dinilai menghina itu sebagai bentuk penyampaian aspirasi kepada RT/RW.

"Itulah keputusan pimpinan yang terbaik untuk saya, saya tetap memberikan dukungan penuh untuk program kebijakannya Pak Wali mengenai Makassar Recover. Itu cuma kesalahpahaman saja, saya hanya menyampaikan aspirasinya RT-RW," kata Nawir.

"Tidak ada maksud untuk menghina Pak Wali karena beliau pimpinan saya, saya cuman menyampaikan aspirasinya RT/RW (di bawah pimpinan) saya yang mau dinonaktifkan," lanjut Nawir.

(nvl/nvl)