Syekh Mohamed bin Zayed Jadi Nama Tol Layang, Lihat Mesranya RI-UEA

Yudistira Imandiar - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 12:26 WIB
japek tol MBZ
Foto: Kemenlu
Jakarta -

Nama Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Mohamed bin Zayed (MBZ) diabadikan sebagai nama Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek. Penggunaan nama Syekh Mohammed tersebut menjadi simbol dari karibnya hubungan bilateral Indonesia dengan UEA.

Sebelumnya pemerintah UEA menamai sebuah ruas jalan protokol di Abu Dhabi dengan nama Presiden Joko Widodo. Indonesia dan UEA memang telah menjalin hubungan bilateral yang cukup dekat selama 45 tahun, sejak tahun 1976.

"Peresmian Jalan Layang MBZ Sheikh Mohamed bin Zayed yang kita saksikan hari ini merupakan bentuk penghargaan kepada Syekh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan atas peran beliau dalam semakin mendekatkan hubungan kedua negara, yang juga menjadi bukti kuatnya persaudaraan antara Indonesia dan Persatuan Emirat Arab," ujar Duta Besar RI untuk UEA Husin Bagis dalam keterangan tertulis, Senin (12/4/2021).

"Sebelumnya, pada 19 Oktober 2020, Pemerintah PEA memberikan penamaan Jalan Presiden Joko Widodo di Embassy Area, Abu Dhabi. Selain itu, ada pula Gedung KBRI Abu Dhabi yang baru (termasuk Rumah Duta Besar) dan Masjid Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi serta Masjid Raya Syekh Zayed di Solo yang saat ini juga sedang dalam proses pembangunan," urai Husin.

Hubungan bilateral Indonesia dengan UEA kian erat di era kepemimpinan Presiden Jokowi. Kedua negara sepakat untuk memperdalam kerja sama di bidang pembangunan infrastruktur, energi terbarukan, perubahan iklim, dan ketahanan pangan.

Hubungan Indonesia-UEA di bidang ekonomi juga terjalin baik. BKPM RI mencatat realisasi investasi UEA di Indonesia pada tahun 2019 (sebelum pandemi) sebesar US$ 68 miliar, naik signifikan dibanding tahun 2015 sebesar US$ 19 miliar. Sementara itu, data BPS yang diolah Kemendag menunjukkan nilai perdagangan kedua negara di tahun 2019 berjumlah US$ 3,7 miliar, naik dibandingkan tahun 2016 yang sebesar US$ 2,9 miliar. Meski sempat turun di tahun 2020 akibat pandemi, namun penurunannya jauh lebih kecil dibanding negara lainnya.

Pada Januari 2020 lalu, Presiden Jokowi dan Syekh Mohammed Bin Zayed Al Nahyan (MBZ) bertemu dan menyepakati investasi UEA di Indonesia dengan nilai USD 22,89 miliar atau setara Rp 300 triliun, di antara proyek yang digarap adalah kilang Cilacap antara PT Pertamina (Persero) dengan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), proyek kilang Pertamina dengan Mubadala Investment Company, pembangunan pelabuhan di Gresik antara PT Maspion dengan Dubai Ports (DP) World, dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Cirata, Jawa Barat (Jabar).

Berlanjut di tanggal 23 Maret 2021, UEA mengumumkan akan menggelontorkan investasi sebesar USD 10 miliar atau setara Rp 144 triliun untuk ditempatkan di Indonesia Investment Authority (INA). Investasi ini merupakan arahan langsung dari MBZ yang juga merupakan putra mahkota sekaligus Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata PEA.

Di masa pandemi, UEA merupakan salah satu negara yang paling awal mengulurkan bantuan kepada Indonesia. Di bulan April 2020 UEA mengirimkan bantuan berupa alat pelindung diri (APD), masker, sarung tangan, dan hand sanitizer untuk Indonesia senilai Rp 11,5 miliar. Bantuan tersebut diangkut dengan pesawat Etihad yang sekaligus mengangkut produk-produk pertanian yang dibeli oleh UEA dari petani Indonesia.

Jika ditilik dari catatan sejarah, penamaan jalan dengan nama tokoh asing telah lazim dilakukan. Di Rangkas Bitung, Banten, misalnya, ada nama Multatuli yang merupakan tokoh Belanda. Begitu juga nama Jalan Patrice Lumumba di Jakarta, Louis Pasteur di Bandung, dan Jawaharlal Nehru di Medan.

Sebaliknya, tokoh-tokoh Indonesia juga menjadi nama jalan di negara-negara lain. Sebut saja misalnya Proklamator dan Presiden Pertama RI Soekarno yang menjadi nama jalan di Maroko, Mesir, dan Pakistan. Lalu ada juga Mohammad Hatta, RA Kartini, Sjahrir, dan Munir yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di Belanda.

(mul/mpr)