Ahmad Basarah Dorong Milenial Baca Buku Catatan Merah Guntur Soekarno

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 10:12 WIB
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah
Foto: MPR
Jakarta -

Putra pertama Presiden Soekarno, Mohammad Guntur Soekarnoputra, meluncurkan buku berjudul 'Catatan Merah dari Putera Bung Karno, Mulai Asian Games 1962 di Jakarta Sampai ke Galaxy Bima Sakti'. Peluncuran buku ini dilakukan secara virtual di Jakarta, Sabtu (10/4).

Kumpulan tulisan Mas Tok, panggilan akrab Mohammad Guntur Soekarnoputra, ini diedit oleh Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah. Sebagian royalti penjualan buku ini akan disumbangkan kepada Komunitas Unidentified Flying Object (UFO), Komunitas Elvis Presley, dan Komunitas Masyarakat Fotografi.

Di dalam buku itu, Guntur menulis tentang sejarah Asean Games 1962, kisah Bung Karno menyelamatkan Universitas Al-Azhar di Kairo yang hampir ditutup oleh pemerintah Mesir saat itu, kisah fiksi spionase James Bond, sampai pesan-pesan kewaspadaan nasional menghadapi COVID-19.

''Saya berharap buku ini dibaca oleh banyak generasi muda, generasi milenial, yang belum banyak tahu kisah-kisah heroik proklamator Republik Indonesia Bung Karno,'' jelas Ahmad Basarah dalam keterangannya, Minggu (11/4/2021).

Ia menilai penulisan buku ini positif karena merupakan upaya intelektual Guntur Soekarnoputra melawan pihak-pihak yang berusaha menghapus memori bangsa tentang Bung Karno.

''Padahal kita tahu, Bung Karno sangat berjasa pada Tanah Air, bahkan pada dunia internasional. Inilah bagian dari jurus jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,'' tandas Ahmad Basarah.

Dalam catatannya, jejak politik untuk menghapus jasa dan kepahlawanan Bung Karno terlihat dari dikeluarkannya Ketetapan MPRS Nomor XXXIII/ MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Presiden Soekarno. Dalam bagian konsideran/menimbang TAP MPRS tersebut dikatakan Presiden Soekarno dituduh terlibat memberikan dukungan terhadap peristiwa G-30-S/PKI.

''Tapi harap dicatat, TAP MPRS No, XXXIII/MPRS/1967 itu telah dinyatakan tidak berlaku lagi," ucapnya.

Apalagi, tambah Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini, Bung Karno lewat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 83 tahun 2012 telah mendapat gelar pahlawan nasional.

''Jika benar Bung Karno berkhianat pada bangsa, tidak mungkin ia mendapat gelar pahlawan nasional,'' jelas Ahmad Basarah.

Untuk dunia Islam, lanjutnya, Bung Karno juga punya jasa besar. Menurut Ahmad Basarah, Bung Karno berjasa besar di balik dibatalkannya penutupan Universitas Al-Azhar Mesir oleh Presiden Gamal Abdul Nasser, penemuan makam Imam Bukhari di Uzbekistan, difungsikannya kembali Masjid Biru di Moskow, tokoh di balik terselenggaranya Konferensi Islam Asia Afrika 1965 di Bandung, serta ditanamnya pohon Sukarno di Arafah Saudi Arabia.

Dalam komentarnya, Wakil Presiden VI Try Sutrisno memuji editor buku ini yang disebutnya terkesan sangat mengenal jati diri penulis buku. Try memuji tulisan tentang James Bond yang tampaknya ringan, tapi sesungguhnya berisi pesan agar bangsa Indonesia waspada terhadap spionase asing.

Sementara mantan Kepala BIN AM Hendropriyono tertarik pada cita-cita revolusioner Bung Karno yang pada 5 Oktober 1965 ingin melakukan percobaan bom atom buatan Indonesia meski rencana ini batal terjadi akibat politik dalam negeri.

Sebagai editor buku ini, Ahmad Basarah menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada tokoh-tokoh nasional yang hadir secara virtual di acara peluncuran buku ini. Mereka yang hadir antara lain Wakil Presiden VI Try Sutrisno, mantan Kepala BIN AM Hendropriyono, Marsekal Pur TNI Cheppy Hakim, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Hadir pula Kwik Kian Gie, Soekarwo, Theo L. Sambuaga, Basuki Tjahaja Purnama, dan Prof. Dr. Edi Swasono.

(fhs/ega)