Tak Terima Tagihan Listrik Rp 20 Juta, Warga di Jambi Laporkan PLN ke Polisi

Ferdi Almunanda - detikNews
Sabtu, 10 Apr 2021 12:59 WIB
Ilustrasi biaya listrik
Ilustrasi tagihan listrik (Foto: Getty Images/iStockphoto/Nikola Nastasic)
Jambi -

Seorang warga Jelutung, Kota Jambi, Anthoni, melaporkan pihak PLN Cabang Jambi ke polisi. Dia melaporkan PLN karena tak terima tagihan listriknya mencapai Rp 20 juta dan meterannya dicabut.

"Saya merasa dirugikan karena saya harus dituntut membayar uang Rp 20.693.832. Tidak itu saja, meteran token listrik saya juga dicabut oleh petugas PLN. Karena itu, saya melaporkan kasus ini ke Polda Jambi biar ada penanganan," kata Anthoni Suyatno kepada wartawan, Sabtu (10/4/2021).

Anthoni mengatakan tagihan listrik di rukonya itu terjadi pada 2018. Saat itu Anthoni memasang meteran yang kemudian diganti menjadi meteran token.

Setahun berselang, tiba-tiba pegawai PLN datang dan mencabut meterannya sambil membawa tagihan denda Rp 20 juta itu.

"Saya waktu itu dipanggil untuk datang ke ruko saya untuk menemui petugas PLN. Saat itu petugas PLN memberi tahu saya bahwa meteran token saya ada kerusakan. Awalnya saya kira rusak biasa, namun tiba-tiba petugas PLN juga memberi tahu bahwasanya saya menunggak sekitar 17.000 KWh. Di situ saya bingung, ini ada yang tidak beres," kata Anthoni.

Dia kemudian mendatangi kantor PLN Rayon Kotabaru, Kota Jambi. Anthoni mengaku awalnya ditagih uang Rp 10 juta untuk membayar tagihan tunggakan token. Kemudian, dia juga diharuskan membayar denda sehingga jika ditotal berjumlah Rp 20 juta.

"Saya sampai di kantor PLN ini, awalnya saya disuruh bayar Rp 10 juta, saya abaikan, karena setahu saya yang namanya token tidak ada tagihan. Lalu bukan itu saja, ada tambahan lainnya, yang mana keseluruhan pembayaran listrik saya Rp 20 juta lebih itu. Di sini kan saya tidak terima," ujarnya.

Anthoni juga mengaku sempat bertanya ke petugas PLN tentang tagihan yang baru ditagih setelah setahun berlalu. Namun petugas PLN disebut tak memberi penjelasan apa pun.

"Respons petugasnya saat itu dengan menyebutkan bahwa tugas mereka tidak hanya mengurusi meteran saya, tetapi masih banyak pekerjaan lainnya," kata Anthoni.

Anthoni pun tak membayar tagihan itu pada 2019 karena merasa jumlahnya tidak masuk akal. Tagihan itu kemudian dimintakan lagi ke Anthoni pada 2021 saat hendak memasang kembali tagihan listrik di ruko setelah ada pihak yang hendak menyewa.

"Tentu kejadian ini membuat saya merasa keberatan, maka kasus yang terjadi sejak lama ini saya laporkan ke Polda Jambi, karena saya tentu merasa keberatan dan dirugikan sebagai konsumen," ujar Anthoni.

Simak tanggapan PLN di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2