Round-Up

Terungkap Cerita 'Putri Tidur' dari Banjarmasin Kembali Terlelap

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 22:56 WIB
Gadis di Kalsel sudah tertidur selama sepekan. Gadis yang akrab disapa Echa ini sempat tertidur selama 13 hari pada 2017 lalu. (dok Istimewa)
Gadis di Kalsel sudah tertidur selama sepekan. Gadis yang akrab disapa Echa ini sempat tertidur selama 13 hari pada 2017. (dok Istimewa)
Jakarta -

Sudah sepekan ini Siti Raisa Miranda atau Echa (17) terlelap tidur tak kunjung bangun. 'Putri Tidur' ini pun kembali menjadi perbincangan khalayak ramai. Bagaimana ceritanya?

Orang tua Echa, Mulyadi dan Lili, cemas karena putrinya kembali mengalami gejala tidur panjang. Echa sempat dibawa keluarga ke RSUD Dr Ansari Saleh Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), karena kondisi tidur panjangnya kembali datang.

"Malam Sabtu kondisi masih guring (tertidur), kemudian ulun (saya) bawa ke rumah sakit untuk rawat inap. Selama tiga hari di RS Ansari Saleh anak ini belum juga bangun. Akhirnya dibawa pulang ke rumah, karena hasil pemeriksaan medis normal-normal saja," kata Mulyadi kepada detikcom, Rabu (7/4/2021).

Pada 2017, 'Putri Tidur' itu pernah mengalami gejala serupa. Pada waktu itu, Echa sempat tertidur selama 13 hari. Echa kemudian dijuluki 'Putri Tidur dari Banjarmasin'. Kala itu diduga Echa mengidap sindrom langka 'hipersomnia'.

Hipersomnia adalah kondisi yang membuat seseorang merasa mengantuk yang berlebihan pada siang hari. Kondisi ini juga dapat terjadi meski seseorang itu sudah tidur dalam waktu yang lama. Hipersomnia dapat disebut dengan excessive daytime sleepiness (EDS).

Mengutip laman Healthline, berdasarkan faktor penyebab, ada dua jenis hipersomnia, yakni primer dan sekunder. Hipersomnia primer disebabkan adanya gangguan fungsi sistem saraf pusat dalam yang berfungsi mengatur waktu untuk terjaga dan terlelap. Kondisi ini bisa membuat si penderita bisa merasakan kantuk secara tiba-tiba. Mereka bisa merasakan kantuk pada siang hari meskipun waktu tidur pada malam sudah terpenuhi.

Sementara itu, hipersomnia sekunder cenderung disebabkan rasa lelah akibat kekurangan waktu tidur pada malam hari. Namun, kondisi ini juga bisa disebabkan adanya riwayat penyakit kronis dan dampak konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan tertentu.

Kembali ke Echa, hingga Rabu (7/4), 'Putri Tidur' itu masih terlelap seperti orang tidur pada umumnya. Pihak keluarga berharap Echa bisa bangun dan beraktivitas kembali seperti biasa. Agar nutrisi tubuhnya terjaga, sesekali Mulyadi dan istri memberikan makanan dengan disuap saat kondisi Echa tenang.

"Sebenarnya nggak enak menyampaikan, namun karena kepentingan anak ulun, harapannya Echa bisa diterapi dengan alat yang lebih canggih, meskipun di rumah sakit di Banjarmasin semua peralatan medis sudah dites. Kata dokter masih ada alat lain yang lebih canggih namun di Jawa. Mudah-mudahan kami bisa membawa terapi Echa ke RS di Jawa," harap Mulyadi.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Selanjutnya
Halaman
1 2