Polisi Ungkap Peredaran Narkoba dari Lapas Ambon, 2 Oknum PNS Ditangkap

Muslimin Abbas - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 18:07 WIB
Ilustrasi narkoba, sabu putau ganja
Foto: Ilustrasi (Mindra Purnomo/detikcom)
Ambon -

Polisi mengungkap peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas Kelas 1 Ambon, Maluku. Diketahui, peredaran narkoba itu diatur oleh salah satu narapidana yang dibantu oleh 2 oknum PNS.

Pengungkapan ini bermula ketika Badan Narkotika Nasional (BNN) Maluku bersama kepolisian menangkap kurir sabu antar provinsi di Bandara Pattimura, Ambon, Maluku.

"Informasi dari masyarakat akan datangnya kurir narkoba antar provinsi dari kampung ambon (Jakarta) ke Ambon, kita sama danlanud dan polresta berhasil menangkap satu tersangka dengan inisial VN," kata Kepala BNN Maluku Brigjen M Zainul Muttaqien saat dihubungi, Selasa (6/4/2021) malam.

Kemudian polisi menyita ponsel pelaku. Setelah ponsel VN diperiksa, diketahui peredaran narkoba dikendalikan dari dalam Lapas Kelas 1 Ambon. Sejumlah barang bukti narkoba dari VN disita.

"Dari VN ini berkembang kepada kurir narkoba yang ada di dekat bandara yang sudah menunggu, dari kurir ini kita menyita 50 gram sabu dan kita sita hp ternyata kontaknya dikendalikan di Lapas Ambon napi inisial RB," ujar Zainul Muttaqien.

Selanjutnya, BNN Maluku menggeledah Lapas Kelas 1 Ambon. Petugas menemukan sejumlah ponsel.

"Kakanwil sudah mengajak kami melakukan penggeledahan bersama ramsa lapas dan rutan yang dipimpin langsung oleh kakanwil dan saya dari hasil penyitaan didapat 8 ponsel. RB merupakan adik dari G yang berada di Nusakembanngan," ucap Zainul.

Setelah didalami, ternyata peredaran narkoba yang dikendalikan dari lapas rupanya dibantu oleh 2 oknum PNS. Keduanya langsung ditangkap petugas.

"RB dalam melakukan pengendalian narkoba ini ternyata dibantu 2 oknum PNS inisial IR dan MA yang kita tangkap bersama Kakanwil Kemenkumham yang satu di lapas, satu (di) rumah, yang kami sita ada 10 atm, 8 rekening untuk transaksi narkoba," imbuh Zainul Muttaqien.

Penjelasan Kakanwil Kemenkumham Maluku

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Maluku Andi Nurka masih menunggu penyelidikan dari BNN terkait 2 oknum PNS yang bertugas di Rutan Kelas IIA dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Ambon inisialnIR dan MC terkait jaringan bandar narkoba. Bila keduanya terbukti terlibat, BNN akan langsung memberi sanksi administratif sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53.

"2 Orang tersebut pegawai saya, sementara BNN memeriksa dan itu ranahnya yang tidak mungkin campur di sana. Dari hasil pemeriksaan nanti dari BNN bagaimana, bukti apakah dia terlibat, apakah dia kelas besar, apa kelas kecil nanti kita menunggu dari sana (BNN Maluku), setelah itu diserahkan ke saya," kata Andi Nurka ditemui di kantornya pada Rabu (7/4/2021).

Setelah 2 oknum ASN itu diserahkan kembali kepadanya, dia akan langsung mengambil tindakan sesuai aturan yang ada. "Tindakan administratif kepada mereka dengan menerapkan peraturan pemerintah nomor 53 untuk ruang disiplin pegawai, dan kalau memang ada keterlibatan kecil, kemungkinan besar saya pindah keluar daerah, dan besar keterlibatan langsung itu pemecatan," ujarnya.

Sepak terjang 2 oknum ASN terlibat dalam jaringan peredaran narkoba tidak diketahui oleh Kakanwil Kemenkumham Maliku. Dia juga belum mengetahui apakah jaringan narkoba 2 oknum ASN ini juga melibatkan ASN lain atau tahanan lain. Dia menyerahkan BNN untuk melakukan penyeldikan tuntas.

"Makanya kita lakukan tindakan preventif, karena selama ini saya lihat adem-adem saja, saya liat tapi saya waspada, makanya kita gandeng BNN. Nah itu nanti hasil penyidikan kita tidak bisa masuk ke ranah situ," tuturnya.

Menurut Andi, oknum ASN inisial IR sudah sekitar 10 tahun bertugas di Rutan Kelas IIA Ambon, sementara ASN inisial MC sudah sekitar 5 tahun lebih 5 tahun bertugas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak kelas II Ambon. Dia menduga 2 oknum ASN itu terlibat kasus narkoba karena gaya hidup.

"Mungkin gaya hidup kalau kita pegawai negeri kan jelas, gajinya berapa, mau lebih dari itu berbuat yang salah siapapun pegawai itu," ungkapnya.

(isa/isa)