Promosi Via IG, Tarif Filler Payudara Dokter Gadungan di Jakbar Rp 5 Juta

Rahmat Fathan - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 17:24 WIB
Polisi tangkap pelaku filler payudara abal-abal ke dua model di Jakbar.
Polisi menangkap pelaku filler payudara abal-abal ke dua model di Jakbar. (Fathan/detikcom)
Jakarta -

Dokter gadungan berinisial SR ditangkap atas dugaan malpraktik filler payudara di Jakarta Barat. Tersangka mempromosikan filler payudara via Instagram dengan tarif mencapai jutaan rupiah.

"Yang bersangkutan juga dalam akun Instagram Beauty Sexi Store memasang iklan dan menawarkan melakukan filler payudara dengan tarif sekitar Rp 5 juta untuk filler sebanyak 500 cc dan Rp 3 juta untuk filler sebanyak 250 cc," ujar Kapolres Metro Jakpus Kombes Ady Wibowo dalam jumpa pers di kantornya, Jl S Parman, Jakarta Barat, Selasa (6/4/2021).

Tersangka SR mendapatkan cairan silikon untuk filler payudara dari tersangka ML. Keduanya melakukan transaksi jual-beli cairan silikon itu sejak September 2020.

"Sekitar September tahun lalu 2020, tersangka SR melakukan pembelian produk berupa cairan silikon tanpa merek, awalnya itu yang dia lakukan," ucap Ady.

Tersangka SR membeli cairan tersebut dari ML secara online. Sebelum buka praktik suntik filler payudara, tersangka SR memang melakukan jual-beli cairan silikon.

"Jadi dia (SR) membeli itu secara online dengan harga Rp 3,5 juta per liter atau 1.000 cc dan tersangka menjual kembali secara online seharga Rp 4,5 juta. Ada keuntungan Rp 1 juta dan sempat terjual beberapa paket," katanya.

Hingga akhirnya SR bertemu dengan LC, orang yang mengajarkannya menyuntikkan filler payudara. LC juga memberikan sertifikat pelatihan kepada SR.

"Nah sertifikat inilah yang menurut hasil penyelidikan kami itu digunakan untuk bisa membuat korban percaya terkait praktik yang dilakukan oleh tersangka SR," tutur Ady.

Polisi pun masih mendalami kasus ini. Polisi juga tengah mencari keberadaan LC.

"Ini sedang kita dalami yang memberikan sertifikat dan les tersebut," jelasnya.

Lebih lanjut, Ady mengungkap bahwa SR bukan seorang dokter maupun tenaga kesehatan. SR merupakan sarjana pertanian.

Dalam kasus ini, kedua tersangka dijerat Pasal 77 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan/atau Pasal 197 dan/atau Pasal 198 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan/atau Pasal 62 ayat 1 juncto Pasal 8 ayat 1 UU Nomor 8 tentang Perlindungan Konsumen dan/atau Pasal 378 KUHP.

Kasus ini terungkap setelah dua perempuan yang mengaku sebagai model melapor polisi. Kedua korban mengalami infeksi setelah mendapat tindakan filler payudara oleh tersangka SR.

(mea/mea)