Wakil Ketua MPR Ungkap 4 Rumusan Strategis Hadapi Indonesia Emas 2045

Abu Ubaidillah - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 14:10 WIB
Jazilul Fawaida
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengatakan Indonesia akan menghadapi masa keemasan yang disebut dengan Indonesia Emas 2045. Di masa itu, ada empat rumusan yang harus disiapkan sebagai pilar untuk menyongsongnya.

Pertama adalah SDM dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang unggul. Ia kemudian mempertanyakan SDM Indonesia khususnya PMII sudah lengkap atau belum untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

"Sebab tanpa itu memang akan hadir Indonesia Emas, tapi kita berada di belakang. Padahal kitalah yang seharusnya menjadi pemimpin," ujar Guz Jazil, sapaan akrab dalam keterangannya, Selasa (6/4/2021). Pernyataan ini disampaikannya dalam Muktamar Pernyataan Dosen PMII, Seminar Session 2 bertajuk Blue Print Indonesia E di Kampus UIN Sayyid Al Rahmatullah, Tulungagung, Jawa Timur.

Menurutnya, di masa Indonesia Emas 2045 bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju, mampu bersaing dengan bangsa lain serta dapat menyelesaikan masalah-masalah yang mendasar di Tanah Air, seperti isu korupsi, pendidikan, kemiskinan, permasalahan remaja, dan sebagainya.

Ia mengatakan Muktamar Pemikiran Dosen PMII harus melahirkan satu infrastruktur pikiran untuk menyambut satu abad usia bangsa ini. Menurutnya dalam persoalan iptek, masing-masing harus merenungkan apakah alumni PMII mampu mengejar ketertinggalan di bidang iptek? di mana saja mereka? dan apa yang telah dirumuskan dengan teknologi.

Rumusan kedua adalah pembangunan ekonomi berkelanjutan. Menurutnya bangsa ini harus memikirkan betul desain ekonomi bermanfaat dan berorientasi bagi kepentingan rakyat atau tidak. Sebab ekonomi RI harusnya berdasarkan kerakyatan.

Rumusan berikutnya yang harus disiapkan adalah pemerataan pembangunan sebagai bentuk terciptanya keadilan. Syarat Indonesia Emas 2045 selanjutnya adalah perlunya pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

"Teman-teman PMII harus memberikan masukan terkait ketahanan nasional. Makanan kita kalah dengan makanan Jepang, Korea. Pecel lele kita gak ada di mal-mal, adanya di pinggiran. Inilah perlunya kehadiran pemerintah untuk membantu mewujudkan. Apalagi ketahanan pangan kita juga rentan. Bicara Indonesia Emas tanpa adanya kedaulatan tidak mungkin," katanya.

Kedaulatan nasional yang dimaksud terdiri dari banyak hal, mulai dari pangan juga budaya. Menurutnya anak-anak di Indonesia yang ditonton artis Korea, jadi budaya atau artis Korea secara tidak terasa sudah menjajah, secara tidak sadar yang ditonton dan dibanggakan itu produk luar.

Ia mengatakan tugas PMII adalah membangun infrastruktur pemikiran. Bagaimana ke depan ada sekelompok orang yang bisa membangun orientasi pemikiran untuk mencapai kemajuan bangsa.

"Blue print Indonesia Emas didasari satu paradigma, ditandai dengan satu abad kemerdekaan bahwa akan ada orang lahir, bahasa Jawanya Satrio Piningit sebagai pembaharu 100 tahun Indonesia atau 100 tahun NU. Kalau ini tidak dirumuskan dalam Muktamar Pemikiran Dosen PMII ini, orang yang disebut akan membenahi bangsa bukan dari kalangan PMII," urainya.

Ia pun mengajak para dosen agar tidak hanya mengajar di kampus saja, melainkan juga memberikan pencerahan dengan turun langsung ke tengah masyarakat.

"Kalau tidak mencerahkan, kita selesai dari Muktamar ini kita akan kembali biasa-biasa saja. Dosen PMII jangan hanya mengajar, tapi berdiri tegak di tengah masyarakat dan memberikan pencerahan. Para dosen harus memancarkan cahaya sehingga masyarakat cerdas dan kita bisa melukis dalam sejarah bahwa dosen PMII dan hasil dari Muktamar ini bisa memberikan pemikiran dan gerakan menuju Indonesia Emas," urai dia.

Guz Jazil juga mengatakan dalam momentum pemilihan presiden 2024, kader-kader PMII harus hadir dan mengambil momentum tersebut. PMII menurutnya harus memimpin untuk membuktikan setiap 100 tahun ada pembaharu.

Ia mengingatkan agar tidak berhenti pada pikiran saja, melainkan harus dilanjutkan dengan tindakan nyata sehingga bisa melahirkan sesuatu. Menurutnya dosen PMII harus memiliki akar yang kuat, batang yang kokoh sehingga bisa menghasilkan daun dan buah yang lebat.

Sebagia informasi, hadir dalam Muktamar Pemikiran Dosen PMII tersebut antara lain Wakil Ketua DPR Abdul Muhaimin Iskandar (Gus AMI), Sekjen DPP PKB Hasanuddin Wahid, Ketua Fraksi PKB DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua Komisi IV DPR Anggia Ermarini, Ketua Umum PB IKA PMII Ahmad Muqowwam, serta para dosen dan rektor dari berbagai perguruan tinggi. Hadir pula secara virtual Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar, dan sejumlah tokoh penting lain.

Simak juga 'Jokowi Targetkan Indonesia Berpenghasilan Tinggi di 2045':

[Gambas:Video 20detik]



(akd/akd)