Nasir Abas: Pembenci Pemerintah Mudah Direkrut Jadi Teroris

Deden Gunawan - detikNews
Minggu, 04 Apr 2021 08:15 WIB
Jakarta -

[Gambas:Video 20detik]

Nasir Abas menyatakan orang-orang yang sudah mempunya rasa benci terhadap pemerintah cenderung lebih mudah untuk direkrut menjadi teroris ketimbang mereka yang masih nol. Sebab sikap dan ideologi jaringan teroris selama ini biasanya memang memusuhi pemerintah atau siapapun yang berkuasa.

"Kalau saya akan merekrut orang untuk jadi teroris, saya akan memilih mereka yang sudah punya rasa kebencian kepada pemerintah ketimbang yang masih nol. Ibaratnya tinggal menambah pupuk sedikit jadilah," kata mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiah untuk wilayah Filipina, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan itu dalam Blak-blakan detikcom, Rabu (31/3/2021).

Ia mengutarakan hal itu terkait temuan sejumlah atribut Front Pembela Islam (FPI) di kediaman sejumlah tersangka anggota JAD (Jamaah Ansharut Daulah) di Condet dan Bekasi oleh Densus 88. Perekrutan seseorang menjadi anggota jaringan teroris, Nasir Abas menegaskan, tidak terkait kelompok, profesi, atau status sosial.

Karena itu penemuan simbol dan atribut FPI tidak otomatis organisasinya secara formal terlibat. Apalagi FPI sudah sejak beberapa bulan lalu eksistensinya dilarang pemerintah.

"Ïtu mungkin simpatisan saja yang sengaja menyimpan atribut sebagai kenangan karena FPI kan sudah dibubarkan," kata Nasir Abas.

Pada bagian lain, penulis buku "Memberantas Terorisme, Memburu Noordin M Top" dan "Membongkar Jamaah Islamiyah: Pengalaman Mantan Anggota JI" itu menyebut dua surat dalam al-Quran serta hadis yang kerap disalahtafsirkan para pelaku aksi terorisme. Kedua surat dimaksud adalah Al-Baqarah ayat 191 dan Al-Maidah ayat 44.

Ayat 191 secara garis besar mengajarkan kepada kaum muslim untuk memerangi, mengusir, bahkan bila perlu membunuh kaum kafir dimana saja yang bisa dijumpai. Tapi konteks ayat tersebut adalah ketika dalam kondisi peperangan yang prinspinya, "Membunuh atau dibunuh".

"Ayat dalam surat itu Allah SWT mengajarkan kepada kaum muslim agar dalam peperangan jangan gamang. Jangan hanya diam, berpangku tangan. Tapi kejarlah musuh," kata Nasir Abas.

Celakanya, dia melanjutkan, oleh kelompok orang-orang tertentu karena hanya membaca terjemahan lalu menganggap Indonesia ini medan perang. Pemerintah, presiden, tentara, polisi, dan orang nonmuslim dianggap musuh.

Ini ditambah dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa "Aku diutus, diperintahkan untuk membunuh manusia sampai mereka bersyahadat."

Padahal yang dimaksud di situ adalah hanya berlaku kepada orang-orang musyrik yang memerangi umat Islam, bukan semua orang musyrik. Sebab ada beberapa hadits lain Rasulullah justru melarang untuk memerangi perempuan, anak kecil, pendeta, dan orang-orang yang lemah. Ada juga hadis lain yang menyatakan, "Aku diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak"

Kesalahkaprahan juga berlaku dalam memaknai surat Al-Maidah ayat 44 yang berbunyi, "Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir".

Akibatnya, kata Nasir Abas, semua nonmuslim dianggap musuh. Bahkan Presiden pun dianggap kafir karena dianggap tak menegakkan hukum Islam. "Orang muslim yang berbeda dengan dirinya pun dianggap kafir. Inilah paham takfiri, mudah mengkafirkan orang lain. tapi ini bukan hal baru, sudah ada sejak Nabi Muhammad wafat," paparnya.

(jat/jat)